Minggu, 05 Juli 2009

10 Aturan Main Makan Malam dengan Cewek

Mengajak pasangan anda ber-candlelight dinner? Hhhmmm...kanapa nggak. Konon, memang itu kok salah satu ajakan kencan yang ditunggu-tunggu pasangan anda. Tapi ingat lho, yang namanya makan malam terlebih pada saat berdua dengan pacar, tentu ada aturan mainnya. 


Nah, biar acara makan malam tersebut berjalan lancar, kayaknya nggak ada salahnya mengikuti trik-trik berikut ini: 

1. Memilih tempat. Akan lebih baik jika Anda memilih tempat yang cocok dengan suasana hati Anda dan pasangan. Apakah memilih suasana romantis atau bernuansa klasik. Soalnya ini penting untuk menarik perhatian si dia. Artinya, jangan sekali-kali meninggalkan kesan buruk kepada pasangan hanya gara-gara tempat yang kurang oke. 

2. Pesan lebih awal. Biar kesan pasangan anda kepada Anda terus membaik, pesanlah tempat beberapa hari sebelumnya. Terlebih jika restorannya cukup terkenal. Ya...supaya Anda dan pasangan adna nggak perlu mengantri meja kosong segala. Pun patut diketahui apakah restoran tersebut menerima kartu kredit atau tidak. Tak kalah pentingnya adalah mengetahui ketentuan berpakaian di restoran tersebut. Pasalnya, saltum alias salah kostum itu bisa merusak mood dan selera makan Anda, lho. 

3. Jangan cepat-cepat. Saat mengunyah makanan, janganlah terlalu cepat ataupun terlalu penuh di mulut Anda. Ingat lho, Anda tengah makan dengan siapa? Pasangan(calon pasangan)! Karenanya, jika Anda terlalu lahap bisa-bisa santapan Anda sudah tandas sementara sang kekasih masih asyik menyantap hidangannya. 

4. 10 detik saja, kok. Sebab itu, daripada bengong atau menjadi penonton pasangan yang tengah bersantap, ada baiknya Anda menghitung waktu saat mengunyah. Caranya? Setiap kali mengunyah dalam hati pun menghitung selama 10 detik, baru kemudian memasukkan suapan berikutnya. Repot? Ya, namanya juga demi menjaga imej di depan pasangan anda, bukan? 

5. Jangan bicara kalau lagi mengunyah. Bukan apa-apa, katanya sih tidak yang lebih buruk dibandingkan melihat seseorang berbicara dan mengunyah pada saat bersamaan. Makanya, hindari deh yang namanya menyeruput sup hingga berbunyi, mengecap-ngecap atau mengunyah dengan mulut terbuka. 

6. Ingat serbet. Taruhlah selalu serbet di pangkuan Anda dan jangan sekali-kali menggantungkannya di krah kemeja Anda. Kemudian, jika Anda ingin ke toilet misalnya, jangan letakkan serbet tersebut di atas meja tapi kursi dengan rapi. 

7. Bersikap ramah. Meski sedang menikmati hidangan lezat, bukan lantas nggak bisa bersikap ramah plus mesra kepada pasangan lho. Jadi, tataplah selalu pasangan Anda dengan pandangan mesra. Jangan lupa diselingi senyuman manis ya. 

8. Melayani. Maksudnya bukan melayani layaknya yang dilakukan para waiter, lho. Tapi melayani di sini misalnya mencoba menanyakan kepada pasangan apakah sup atau steak yang lagi disantapnya cukup lezat. Kemudian, jika pasangan Anda membutuhkan sesuatu misalnya, cepatlah menggubit kepada pelayan sampai si pelayan melihatnya. 

9. Jangan sekali-kali menahan sendok atau garpu. Kenapa? Karena jika terlalu lama menahansendok atau pun garpu yang berisi makanan, bukan tidak mungkin makanan itu akan berceceran. Oleh sebab itu, suapkan langsung sendok atau garpu ke dalam mulut. 

10. Jorok? Nggak deh. Jika ada makanan yang terselip di sela-sela gigi, jangan membersihkannya dengan garpu, sedotan, atau pun jari...iiihhhh. Tapi bersihkanlah dengan tusuk gigi seraya ditutupi serbet atau pun tisu. Atau yyang paling aman, mintalah waktu sejenak pergi ke toilet guna membersihkannya. Di toilet, selain sekalian bercermin, Anda akan lebih leluasa membersihkan sisa-sisa makanan tersebut. 

Nah, selamat makan malam dengan gadis/pria pilihan Anda ya.

Minggu, 21 Juni 2009

Bagaimana cara untuk memperkenalkan calon istri/suami kepada keluarga besar kita

Mungkin hal inimungkin ada beberapa orang menganggap simple dan mudah dilakukan padahal ini merupakan penanaman kesan keluarga kita terhadap pasangan kita. Disini saya mau memberikan beberapa gambaran bagaimana cara memperkenalkan calonkan kita kepada keluarga besar kita.

Pertama

Dimulai dari keluarga kita, kita perkenalkan kepada kedua orang tua kita dahulu dan saudara-saudara kita. Dan kita sering ajak dia kerumah jadi secara tidak langsung orang tua kita dan para saudara kandung kita mengenal dia lebih dalam. Akan tetapi hati-hati karena ini merupakan hal dasar yang berakibat kelanjutan hubungan.

Kedua

Apabila kita main ketempat nenek atau saudara-saudara kita sering ajak dia dan otomatis kita dapat memperkenalkan calon kita kepada mereka. Jika hal ini juga sering dilakukan maka nenek dan saudara-saudara sering bertemu dengan calon kita maka dengan cepat pula mereka dapat mengenal calon kita.

Bagaimana menurut teman-teman???

Sabtu, 20 Juni 2009

Kiat-Kiat Cara Menarik Perhatian Lawan Jenis Yang Kita Dambakan (Puja)

Pasti kita pernah merasakan yang namanya jatuh cinta??? Kita secara sengaja atau tidak memikirkan pujaan hati kita. Bahkan kadang-kadang kita melihat bayangan dia dan ternyata tidak ada dia disekitar kita. Disini saya akan memberikan anda beberapa trik-trik untuk menarik perhatian lawan jenis yang sedang anda incar sebagai pasangan anda. 

Pertama

Mempelajari tentang pujaan hati kita yang sedang kita incar tersebut, walaupun kita sering mendahulukan penampilan kita. Akan tetapi yang seharusnya kita lakukan adalah mempelajari sedetail mungkin apa yang disukai dan yang tidak disukai dia.

Kedua

Berpenampilan semenarik mungkin, Munkin ini yang sering kita lakukan dalam menarik perhatian pujaan hati kita. Ini dapat dilakukan setelah mengetahui apa yang dia sukai dan dia tidak sukai. Jangan sampai salah identifikasi yang akan berakhibat anda kelihatan sangat bodoh didepan dia.

Ketiga

Sering bertemu dan berkomunikasi, usahakan anda mengetahui jadwal harian dia (seperti restoran favorit, tempat rekreasi, beautique, café, dll.) dan anda mencoba sering bertemu dengan sengaja. Bila dia merasa canggung atau menanyakan mengapa anda ada ditempat itu maka anda mencoba dapat mengkontrol diri anda menjadi sesosok orang cool yang tidak menaruh perhatian ama dia dan menjelaskan bahwa hanya lewat atau cari alasan yang rasional.

Keempat

Mulailah beranikan diri anda untuk mengajak dia ketempat-tempat kesukaannya, hal ini juga harus anda perhatikan situasi hatinya dan situasi pekerjaan. Hal ini akan lebih behasil jika anda pintar dalam membaca situasi dan kondisi hati.

Kelima

Menjadi pribadi yang baik, hal ini merupakan point paling penting dibandingkan dengan semua point sebelumnya. Pribadi yang baik ini bukan hanya sekedar cari muka tetapi yang berasal dari dalam diri anda sendiri. Tolak ukur pribadi yang baik bukan diukur dari” seberapa anda pintar?” dan “seberapa anda kaya?”. Akan tetapi semua tergantung hati nurani anda dan niat awal anda dalam menjalani semua usaha ini.

Keenam

Menjadi pendengar yang baik, jadikan diri anda pantas menjadi sahabatnya dan jadilah pendengar yang baik. Jangan pernah menyanggah keputusan-keputusan dia secara langsung walaupun mungkin itu salah menurut anda. Untuk menangani hal ini dapat dilakukan dengan cara perlahan-perlahan memberitahu mana yang benar dan mana yang salah dengan argument yang meyakinlan dan dapat dia terima. Akan tetapi apabila dia tidak dapat menerima penjelasan kita maka kita tidak perlu bertengkar demi sebuah persoalan, maka jalan terbaik biar dia tahu sendiri mana yang benar dan mana yang salah dan otomatis dia akan semakin percaya kepada kita.
Ini merupakan kiat-kiat kita dalam menarik perhatian dari lawan jenis kita yang kita dambakan atau kita puja. 

“KATAKAN SEBELUM TERLAMBAT”

Rabu, 17 Juni 2009

Bagaimana menjadi seorang yang terlihat dewasa???

Bagaimana menjadi seorang yang terlihat dewasa???

Menurut saya untuk menjadi dewasa itu merupakan suatu proses dan kadang sikap itu merupakan bagian dari kepribadian kita. untuk menangani hal demikian ada beberapa cara yang harus anda lakukan:

 1. Berfikir sebelum bertindak maupun dalam berbicara.

Kadang waktu kita bicara sering kita lepas kontrol dan membuat kesan kita didepan orang lain kurang berkenan. Hal itu penting kita cermati.

 2. Melihat situasi sekitar kita.

Hal ini harus sering kita cermati karena mungkin pernah kita jumpai situasi-situasi dimana kita merasa tidak nyaman didalam situasi tersebut. Oleh karena itu kita harus secepat mungkin mengadaptasikan diri kita didalam situasi yang kurang bersahabat dengan kita tersebut.

 3. Menjadi pendengar yang baik.

Hal ini paling mudah kita lakukan akan tetapi sering kita lupakan. Dengan menjadi pendengar yang baik kita dapat mengetahui apa saja kemauan mereka(teman2) terhadap kita.

 4. Mau menerima pendapat orang lain terhadap kita.

Klo kita mau menjadi seorang yang baik dan sukses maka kita harus sering bercermin kepada diri kita sendiri. Setelah itu ubahlah kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik itu dan lihatlah apa yang terjadi....

Rabu, 13 Mei 2009

Dadar Gulung Udang (La Tieng)


Sumber : Aneka Masakan Asean-Hengky Runtuwene


Bahan-Bahan : 200 gram udang putih, dikupas kulitnya
3 butir telur ayam
2 batang daun ketumbar
1 sendok teh lada hitam halus
2 batang daun seledri
2 siung bawang putih
5 lembar daun ketumbar
3 buah cabai merah
2 batang daun bawang putih
Garam dan lada secukupnya
Minyak goreng secukupnya


Cara Mengolah :  
Membuat Dadar (untuk kulit):
1. Kocok telur dalam sebuah pinggan, sambil terus dikocok masukkan 3 sendok makan air, garam dan lada secukupnya.
2. Kemudian buatlah dadar telur tipis-tipis menjadi beberapa buah. Sisihkan.

Membuat isi:
1. Bawang putih dan udang yang telah dikupas dicincang. 
2. Batang daun ketumbar, daun bawang dan daun seledri diiris kecil-kecil.
3. Cabai merah diiris tipis memanjang. 
4. Tumis semua bahan tersebut sampai harum.
5. Masukkan lada hitam, garam dan lada secukupnya.
6. Setelah matang angkat.

Membuat Dadar Gulung:
1. Ambil 1 lembar telur dadar
2. Letakkan adonan isi sebanyak 1-2 sendok makan di atas lembaran dadar telur.
3. Gulung rapat seperti membuat kue dadar.
4. Lakukan untuk semua bahan dadar telur dan adonan isi terpakai seluruhnya.
5. Setelah itu potong-potong dadar

Kamis, 30 April 2009

Pizza Mini


Bahan kulit :

350 gram terigu cap Cakra

200 ml Air

1 bungkus ragi instan

1/4 sendok garam


Bahan isi 

- Saus Tomat

- Toping sesuai selera (bisa daging giling yang ditumis dengan bawang bombay, bawang putih, tomat, saus tomat, atau daging asap, daging ayam giling, sosis dsb)

- Keju Mozarella


Cara membuat :

campur semua bahn kulit, uleni sampai kalis

Biarkan 15 menit sambil ditutup serbet bahas

Kempeskan, bagi 8 atau sesuai selera, bulatkan dan pipihkan membentuk lingkaran, tepinya agak ditinggikan

Oles saus tomat, 

Taburi topping

Taburi keju mozarela yang dioles tipis.

Bakar sampai matang.

Selasa, 21 April 2009

Chocolate Cup Cake


Bahan:
225 gr butter
200 gr gula halus / pasir
4 butir telur
½ sdt vanili
225 gr self raising powder
½ sdt baking powder
¼ sdt soda kue
225 gr cooking chocolate (dark/milk)
1 sdm rhum bakar

Cara membuat:
1. kocok butter dengan guka halus & vanili hingga lembut, tambahkan telur satu per satu sambil terus dikocok hingga rata, tambahkan tepung yang telah dicapmur dengan baking powder dan soda kue sedikit demi sedikit sambil dikocok terus dengan mixer
2. masukan cooking chocolate yang telah ditim (dilelehkan) dan rhum bakar, aduk hingga rata dengan spatula
3. siapkan cup bludder / muffin. Masukkan adonan ke dalam cup tersebut sebanyak ¾ saja, lakuakb hingga seluruh isi adonan habis.
4. panggang di dalam oven hingga matang

Kamis, 16 April 2009

Es krim - Resep Minuman - Eggless Mocca Ice Cream


Bahan - Bahan :

250 ml air

1 sdt agar-agar bubuk

150 g gula pasir (original recipe: 200 g)

500 ml susu cair

3 sdm cokelat bubuk, larutkan dalam 4 sdm air

2 sdt kopi bubuk instan, larutkan dalam 2 sdm air panas

250 ml krim kental (whipping cream)

Cara Pembuatan :

Rebus air, agar-agar dan gula sampai mendidih dan larut. Masukkan susu, coklat bubuk dan kopi. Rebus sambil diaduk sampai mendidih. Dinginkan.

Tuang adonan ke dalam kontainer plastik atau stainless steel. Bekukan dalam freezer sampai mengental (2 jam). Keluarkan, kocok dengan mikser atau blender sampai lembut. Bekukan lagi.

Sementara itu, kocok krim kental sampai mengembang dan membentuk puncak tumpul. Simpan dalam lemari es sampai saat digunakan.

Setelah adonan es krim membeku lagi, keluarkan dan kocok lagi sampai lembut. Campurkan krim kocok dalam 3 tahapan ke dalam es krim yang telah dilembutkan, aduk balik hingga rata. Bekukan untuk terakhir kalinya.

Sebelum disajikan, keluarkan dulu dan simpan di dalam lemari es agar lembut dan mudah disekop.

Sumber dari pennylanekitchen

Resep Masakan - Resep Spaghetti 'Simple' ala Rini Idol


Bahan-bahan :

- Spaghetti (bisa diganti pasta lainnya/kepepetnya bisa indomie) 
- Daging sapi giling 
- Sosis sapi 
- Jamur kancing 
- Tomat (dicincang halus) 
- Saus Tomat 
- Bawang bombay & bawang putih (diiris halus) 
- Garam, Gula, Merica 
- Penyedap Rasa 
- Daun Peterseli (diiris halus) 
- Keju Cheddar (diparut) 
- Minyak 
- Mentega 
- Air 

Cara Membuat :

1. Rebus Spaghetti dalam air mendidih yang sudah dimasukkan 1 sendok makan minyak. Angkat, tiriskan. 
2. Panaskan mentega, tumis bawang putih dan bawang bombay hingga harum. 
3. Masukkan daging giling,masak hingga berubah warna lalu tomat cincang, saus tomat, garam, gula, merica, penyedap rasa. 
4. Masukkan sosis dan jamur, masak hingga matang. 
5. Hidangkan spaghetti dengan sausnya, ditaburi daun peterseli cincang dan keju parut.
Sumber : http://rinisusanti.blogspot.com/2004/08/resep-spaghetti-simple-ala-rini.html

Resep Masakan - Resep Spaghetti Tuna


Bahan:.

250 gr Spaghetti 
200 gr tuna kalengan, potong-potong 
100 gr jamur kancing, potong-potong 
60 gr nanas, potong dadu kecil
4 sdm sambal Bangkok 
2 sdm bawang Bombay cincang 
250 tomat, rebus, haluskan 
1 sdm sledri cincang 1 sdt garam halus
1 sdt lada halus
3 sdm minyak goreng

Cara Membuat:

1. Panaskan minyak, tumis bawang Bombay hingga harum. masukkan daging tuna, tomat halus dan sambal Bangkok. Aduk rata. 
2. Tambahkan jamur, potongan nanas, Spaghetti , sledri cincang, lada dan garam, aduk rata. Masak hingga semua bahan matang. Angkat dan sajikan selagi panas.

Resep Masakan - Resep Spaghetti Ayam Pedas


Resep Masakan - Resep Spaghetti Ayam Pedas  

 
Bahan: 
 
250 gr Spaghetti 
200 gr daging ayam, potong dadu 2 x 2 cm
100 gr wortel, potong sesuai selera
100 gr baby kailan, potong-potong 
6 buah cabe merah, haluskan
3 sdm kecap manis 
5 siung bawang putih cincang
1 sdm kaldu ayam instan 
1 sdm bawang merah goreng untuk taburan
½ sdt garam halus 
3 sdm minyak goreng 
1 sdm tepung maizena, larutkan dengan 
150 ml air/kaldu ayam

Cara Membuat:

1. Panaskan minyak, tumis bawang putih dan cabe merah hingga harum. Masukkan daging ayam, aduk hingga berubah warna.
2. Masukkan kecap manis, bumbu-bumbu, wortel dan kailan. Kentalkan dengan larutan air/kaldu dengan tepung maizena. Masak hingga saus agak mengental. Angkat. 
3. Siapkan spaghetti di atas piring saji, siram dengan kuah ayam. hidangkan selagi panas dengan taburan bawang merah goreng. Sajikan segera. 
Untuk 4 Porsi

Resep Masakan - Resep Masakan - Spaghetti Daging Iga & Telur  


 
Bahan:

150 g spaghetti kering

1 sdm mentega

1 siung bawang putih, cincang

10 g bawang Bombay, cincang

100 g daging iga sapi asap/beef bacon, cincang kasar

125 ml krim segar encer

1/2 sdt biji mustard

1/2 sdt oregano kering

1/2 sdt merica hitam bubuk

1 sdt garam

1 butir kuning telur ayam


Taburan:

1 sdm keju parmesan parut


Cara membuat:

Rebus spaghettini dengan air seukupnya hingga lunak. Angkat dan tiriskan.

Tumis bawang putih dan bawang Bombay hingga layu dan harum.

Masukkan daging iga asap, aduk hingga agak kering dan lemak meleleh.

Tuangi krim encer dan bubuhi bumbu lalu didihkan.

Masukkan spaghetti, aduk hingga rata.

Jika suka telur matang, masukkan langsung kuning telur dan aduk hingga matang. 

Angkat, taburi keju parmesan.

Sajikan panas. Jika suka telur setengah matang, taruh kuning telur di atas spaghetti dan aduk selagi panas dan santap segera.

Untuk 2 orang 

Resep Masakan Barat - Roti Sandwich  



Roti Sandwich

Bahan :
4 lembar roti tawar putih
50 gr mentega
2 lbr keju
50 gr daun selada
1 tomat merah, iris tipis
2 lembar daging asap yang sudah diiris tipis
saus tomat 

Cara membuat :
Panggang roti tawar hingga berwarna kecoklatan
Olesi roti tawar tersebut dengan mentega
Taruh daun selada, daging asap, keju dan tomat secara berurutan
Siram dengan saus tomat secukupnya
Tutup kembali dengan roti tawar yang lain.
Sajikan
  Resiko Yang Rentan Dihadapi Oleh Homoseksual
  Kategori Klinis
  Oleh : Veronica Adesla, S.Psi
  Jakarta, 
   
Setiap identitas status yang melekat pada seseorang, setiap keputusan yang dibuat, setiap tindakan yang dilakukan pasti mengandung resiko. Bahkan hidup sendiri adalah sebuah resiko yang harus dijalani dan dihadapi. Demikian juga dengan identitas seksual, baik itu heteroseksual, homoseksual, biseksual semuanya memiliki resiko yang harus dijalani dan dihadapi. 

Resiko yang rentan dihadapi oleh homoseksual, dapat dilihat dari dua sudut pandang berdasarkan: sumber resiko & jenis resiko.

1. Sumber Resiko
Resiko dapat dilihat berdasarkan sumber / asal usul darimana resiko tersebut datang. Maka berdasarkan sumber resiko, resiko yang rentan dihadapi oleh homoseksual dapat dibedakan menjadi dua:

a. Resiko yang harus dihadapi dari lingkungan eksternal

Keberadaan kaum homoseksual di tengah-tengah masyarakat dan di dalam berinteraksi / bersosialisasi dengan lingkungan senantiasa dihadapkan pada hukum, norma, nilai-nilai, dan aturan tertulis maupun tidak tertulis, serta stereotipe yang berlaku di masyarakat. Misalnya saja hukum negara yang tidak memperbolehkan terjadinya pernikahan antara sesama jenis kelamin, norma agama yang tidak memperbolehkan hubungan homoseksual, aturan tidak tertulis yang berlaku di masyarakat untuk menghindari relasi dengan kaum homoseksual, menutup kesempatan bagi kaum homoseksual untuk berkarya / bekerja, bersekolah atau pun kesempatan untuk mendapat pelayanan kesehatan yang sama dengan yang lain.

Situasi di atas berpotensi menghasilkan reaksi dan perlakuan yang bermacan-macam dari lingkungan di sekelilingnya. Ada yang bersikap biasa, ada yang memandang sebelah mata, ada pula yang hingga perlakuan yang tidak menyenangkan seperti dikucilkan, disisihkan / dijauhi oleh keluarga, teman, dan lingkungan kerja, serta masyarakat. 

Inilah sekelumit gambaran resiko-resiko yang kerap dihadapi oleh kaum homoseksual ketika mereka berada di tengah-tengah masyarakat dan menjalin interaksi / bersosialisasi dengan lingkungannya. Tidak menutup kemungkinan ada kaum homoseksual yang menghadapi situasi dan respon berbeda dari masyarakat. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan hukum dan budaya yang berlaku antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Dengan demikian sangat mungkin terjadi kaum homoseksual tertentu di masyakat A dengan budaya dan nilai-nilai tertentu memiliki resiko perlakuan yang berbeda dengan kaum homoseksual di masyarakat B dengan budaya dan nilai-nilai yang tidak sama. 

b. Resiko yang berasal dari perilaku sendiri / lifestyle 

Seorang homoseksual senantiasa dihadapkan pada realitas gaya hidup tertentu yang berlaku di kalangan kaum homoseksual. Gaya hidup ini meliputi cara, perilaku, dan kebiasaan tertentu baik itu dalam mengekspresikan orientasi seksual, bersosialisasi, maupun menjalani hidup sehari-hari. 

Gaya hidup kaum homoseksual beresiko buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental & emosional berkaitan dengan gaya hidup yang kerap mereka jalani seperti: berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual (berhubungan intim); melakukan hubungan seksual yang tidak aman (tidak menggunakan kondom); melakukan anal sex; minum-minuman keras & narkoba. 

A study of homosexual men shows that more than 75% of homosexual men admitted to having sex with more than 100 different males in their lifetime: approximately 15% claimed to have had 100-249 sex partners, 17% claimed 250-499, 15% claimed 500-999 and 28% claimed more than 1,000 lifetime sexual partners. (Bell AP, Weinberg MS. Homosexualities. New York 19781).

Penelitian mengenai homoseksual pria menunjukkan bahwa lebih dari 75% pria homoseksual mengaku telah melakukan hubungan seksual bersama lebih dari 100 pria berbeda sepanjang hidup mereka: sekitar 15% dari mereka pernah mempunyai 100-249 pasangan seks, 17% mengklaim pernah mempunyai 250-499, 15% pernah mempunyai 500-999, dan 28% mengatakan pernah berhubungan dengan lebih dari 1000 orang dalam hidup mereka. (Bell AP, Weinberg MS. Homosexualities. New York 19781).

Promiscuity among lesbian women is less extreme, but is still higher than among heterosexual women. Many 'lesbian' women also have sex with men. Lesbian women were more than 4 times as likely to have had more than 50 lifetime male partners than heterosexual women. (Fethers K et al. Sexually transmitted infections and risk behaviours in women who have sex with women. Sexually Transmitted Infections 2000; 76: 345-9.1)

Pada wanita-wanita lesbian, total jumlah pasangan seks lebih rendah, namun tetap diatas rata-rata jika dibandingkan wanita heteroseksual. Banyak wanita lesbian juga berhubungan seks dengan pria. Wanita lesbian 4 kali lebih memungkinkan untuk mempunyai lebih dari 50 pasangan pria sepanjang hidupnya dibandingkan wanita heteroseksual. (Fethers K et al. Sexually transmitted infections and risk behaviours in women who have sex with women. Sexually Transmitted Infections 2000; 76: 345-9.1)

Gaya hidup demikian beresiko terhadap terganggunya kesehatan fisik, seperti: STI's (Sexual Transmitted Infections) / STD's (Sexual Transmitted Diseases) termasuk HIV-AIDS; dan terganggunya kesehatan mental & emosional, seperti: kecemasan berlebihan, depresi, merusak / menyakiti diri sendiri, dsb.

2. Jenis Resiko

Jenis resiko yang rentan dihadapi oleh homoseksual dapat dibedakan menjadi tiga:

a. Resiko sehubungan dengan kesehatan mental dan emosional

LONDON, September 17, 2008 (LifeSiteNews.com) - A new study in the United Kingdom has revealed that homosexuals are about 50% more likely to suffer from depression and engage in substance abuse than the rest of the population, reports Health24.com2.

London, 17 September 2008 (LifeSiteNews.com) - Sebuah penelitian baru di UK menemukan bahwa orang-orang homoseksual 50% lebih rentan mengalami depresi dan menggunakan narkoba dari populasi normal lainnya, laporan Health24.com2.

A 2004 issue of the The British Journal of Psychiatry, published a study of the high rates of mental illness in gay males, lesbians, and bisexual men and women. The study surveyed mental health problems faced by gays and bisexuals in England and Wales between September, 2000 and July, 2002. The survey was of 2,430 gays and bisexuals over the age of 16 years. It found high rates of planned or actual deliberate self-harm among these groups: 42% of gay males; 43% of lesbians; 49% of bisexual men and women. A similar study published by the Journal of Consulting and Clinical Psychology (Vo. 71, No. 1, 53-61, 2003) found the following: Gay men and bisexual men were more likely than heterosexual males to be diagnosed with at lest one of five mental health disorders. Lesbian-bisexual women were more likely than heterosexual women to report mental health-related problems in the year prior to being interviewed. 24% of lesbian, bisexual women were co-morbid for two or more mental disorders in the previous year3.

The British Journal of Psychiatry tahun 2004, mengeluarkan sebuah hasil penelitian mengenai penyakit mental yang tinggi pada pria gay, lesbian, dan pria & wanita biseksual. Penelitian ini mensurvei penyakit mental yang dialami oleh orang-orang gay dan biseksual di Inggris dan Wales antara September 2000 dan July 2002. Survey ini mencakup 2430 orang gay dan biseksual diatas usia 16 tahun. Penelitian menemukan rata-rata yang tinggi dalam perbuatan menyakiti diri sendiri baik yang di rencanakan atau disengaja di antara group ini: 42% pria gay, 43% lesbian, 49% pria dan wanita biseksual. Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh The Journal of Consulting and Clinical Psychology menemukan hal sebagai berikut: pria gay dan biseksual lebih rentan di-diagnosa mengalami sedikitnya 1 dari 5 gangguan kesehatan mental daripada laki-laki heteroseksual. Wanita lesbian-biseksual lebih mungkin melaporkan diri mengalami masalah sehubungan dengan gangguan mental daripada wanita heteroseksual dalam tahun-tahun sebelum mereka di interview. 24% wanita lesbian dan biseksual mengalami 2 atau lebih gangguan mental di tahun sebelumnya3.

After analyzing 25 earlier studies on sexual orientation and mental health, researchers, in a study published in the medical journal BMC Psychiatry, also found that the risk of suicide jumped over 200% if an individual had engaged in a homosexual lifestyle2.  

Setelah menganalisa sekitar 25 penelitian terdahulu mengenai orientasi seksual dan kesehatan mental, para peneliti mengatakan dalam sebuah jurnal medis BMC Psychiatry bahwa resiko bunuh diri dapat melambung hingga 200% jika seseorang terlibat dalam gaya hidup homoseksual2. 

Two extensive studies published in the October 1999 issue of American Medical Association Archives of General Psychiatry confirmed the existence of a strong link between homosexuality and suicide, as well as other mental and emotional problems4. 

Dua penelitian yang dilakukan oleh American Medical Association Archives of General Psychiatry pada Oktober 1999 menyatakan adanya hubungan kuat antara homoseksualitas dan perilaku bunuh diri, demikian juga dengan gangguan mental dan emosi lainnya4.

Youth who identify themselves as homosexual, lesbian and bisexual are four times more likely than their peers to suffer from major depression; three times more likely to suffer anxiety disorders, four times more likely to suffer conduct disorders, six times more likely to suffer from multiple disorders and more than six times more likely to have attempted suicide4. 

Anak muda yang mengidentifikasi dirinya sebagai homoseksual, lesbian dan biseksual empat kali lebih mungkin menderita depresi berat, tiga kali lebih mungkin menderita gangguan kecemasan, empat kali lebih mungkin menderita gangguan perilaku, enam kali lebih mungkin menderita kombinasi gangguan mental, dan lebih dari enam kali lebih mungkin melakukan bunuh diri4.

Data-data penelitian yang dilakukan oleh berbagai sumber diatas membenarkan adanya resiko gangguan kesehatan mental dan emosional pada homoseksual, seperti: depresi, gangguan mental, gangguan kecemasan, gangguan perilaku (melakukan penganiayaan-kekerasan seksual atau fisik / sexual or physical abuse), menyakiti / melukai diri sendiri, hingga perilaku bunuh diri. 
 

Dinamika penyebab gangguan mental & emosional
Apakah yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan mental dan emosional seperti demikian pada homoseksual? Terdapat beberapa penjelasan mengenai hal ini:  

* Tekanan psikologis terhadap penderitaan / kondisi yang tidak menyenangkan, seperti: homophobia; HIV-AIDS; non HIV STD's seperti: Syphilis, Anal Cancer, Gonorrhoea, Chlamydia, Herpes, Genital Warts; masalah body image. Tekanan psikologis dapat membuat seorang homoseksual menjadi stres dan ketika ia tidak mampu menghadapi stres ini (distress), dirinya menjadi tidak terkendali dan tidak mampu mengkontrol dirinya sendiri. Dalam situasi demikian orang ini dikendalikan sepenuhnya oleh emosi-emosi negatif di dalam dirinya seperti: depresi, kecemasan / ketakutan yang berlebihan, mengasihani diri sendiri, amarah, iri hati, dsbnya.

* Negative self image
Negative self image terjadi ketika seseorang memandang dan meyakini dirinya sendiri tidak berharga, rendah diri (bukan rendah hati loh!), dan tidak berdaya (Internalised homophobia).

"Negative self image is views self as socially inept, unappealing, or inferior to others" 
  (www.medical-dictionary.com)

The concept of internalised homophobia depends on the idea that we develop a negative self-image from the attitudes of others towards our sexuality during our socialisation5.

Konsep homophobia internal melihat pada sebuah pemikiran dimana kita membangun self image negatif dari perlakuan orang lain terhadap seksualitas kita selama kita bersosialisasi5.

Negative self image terbentuk pada seorang homoseksual ketika ia dihadapkan pada: pengalaman masa lalu yang menyakitkan (ditolak dan dianiaya / disakiti baik fisik maupun emosional oleh keluarga, teman-teman bermain di masa kecil, ataupun di sekolah); perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat (homophobia) seperti dengan: memberlakukan stereotipe tertentu mengenai homoseksual, men-cap atau memberikan label negatif tertentu, memberikan tekanan / memaksakan nilai-nilai, sikap, atau tindakan tertentu; serta faktor diskriminatif dalam hal beberapa hal seperti hukum, norma, nilai-nilai, dan aturan-aturan tertentu 

"Homophobia [...] can cause stress, worry and derpression. It harms our physical and mental health. It can affect how some of us value ourselves and our future. We might try to cope with the pressure through drink, drugs, smoking or sex5"

"Homophobia dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi. Ini merusak kesehatan fisik dan mental kita. Dan dapat mempengaruhi bagaimana kita menilai diri sendiri dan masa depan kita. Kita dapat mencoba mengatasi tekanan tersebut melalui minum-minum, menggunakan narkoba, merokok atau seks5"

* Terlibat dalam melakukan hubungan seksual (hubungan intim) homoseksual.
In an interview with Zenit News, Dr. Richard Fitzgibbons, a child and adult psychiatrist in practice for more than 27 years, said, "Compared to controls who had no homosexual experience in the 12 months prior to the interviews, males who had any homosexual contact within that time period were much more likely to experience major depression, bipolar disorder, panic disorder, agoraphobia and obsessive compulsive disorder. Females with any homosexual contact within the previous 12 months were more often diagnosed with major depression, social phobia or alcohol dependence."4 

Dalam sebuah wawancara dengan Zenith News, Dr. Richard Fitzgibbons, seorang psikiater anak kecil dan dewasa yang sudah berpraktek lebih dari 27 tahun mengatakan: "Dibandingkan dengan sampel kontrol yang tidak pernah mengalami pengalaman homoseksual dalam jangka waktu 12 bulan sebelum interview, pria yang pernah mempunyai pengalaman kontak / hubungan homoseksual apapun dalam periode tersebut lebih mungkin merasakan depresi berat, bipolar disorder, panic disorder, agoraphobia, dan OCD. Wanita dengan pengalaman kontak / hubungan homoseksual dalam jangka waktu 12 bulan terakhir lebih sering di diagnosa mengalami depresi berat, phobia sosial atau ketergantungan alkohol." 4

He concluded by saying, "Men and women with a history of homosexual contact had a higher prevalence of nearly all psychiatric disorders measured in the study. These findings are the result of a lifestyle marked by rampant promiscuity and an inability to make commitments, combined with unresolved sadness, profound insecurity, anger and mistrust from childhood and adolescence."4 

Dia menyimpulkan dengan berkata, "Pria dan wanita dengan sejarah hubungan homoseksual lebih sering mengalami hampir semua gangguan psikiatri yang diukur dalam penelitian tersebut. Penemuan ini adalah hasil dari gaya hidup yang ditandai oleh kebiasaan melakukan hubungan seks yang sembarangan dan ketidakmampuan untuk melakukan komitmen, dikombinasikan dengan kesedihan, perasaan tidak aman yang amat sangat, amarah dan masalah ketidakpercayaan semenjak masa kecil dan remaja yang belum terselesaikan." 4

Persepsi dan sikap seorang homoseksual terhadap hubungan seksual yang dilakukan memiliki konsekuensi terhadap kesehatan mental dan emosionalnya. Ketika ia menaruh persepsi dan sikap negatif terhadap hubungan seksual yang dilakukannya maka perasaan-perasaan tidak menyenangkan akan hadir dalam dirinya dan mengganggunya. 

Persepsi dan sikap negatif ini bisa berwujud guilt (perasaan bersalah), fear (ketakutan), shame (rasa malu) karena keyakinan bahwa hubungan seksual yang dilakukannya tersebut tidaklah baik, keyakinan bahwa hubungan seksual yang dilakukannya bukanlah atas kehendak bebasnya sendiri, keyakinan bahwa hubungan seksual yang dilakukannya tidak membawanya pada apapun, tidak memberikan sesuatu yang berarti, atau tidak akan ada ujungnya, menjadikan hubungan seksual sebagai sebuah pelarian atau pelampiasan atas emosi-emosi negatif yang dirasakannya, dsbnya. Akibatnya, setiap habis mengecap kenikmatan sesaat, dirinya malah terluka oleh rasa tidak berguna, rasa kesepian yang dalam, kehampaan, rasa bersalah, rasa berdosa, dsb.

Akhirnya terbentuk mata rantai yang patologis (tidak sehat), melakukan hubungan seksual kemudian merasa terluka, akhirnya menyakiti diri sendiri lantas mencari pleasure / hal-hal yang dapat menyenangkan dirinya (mengobati dari rasa sakit) dengan melakukan hubungan seksual lagi dan kemudian berulang lagi dan demikianlah seterusnya.
 
Menurut Sanderson (www.lesbianinformationservice.org 1995), dampak-dampak dari staying in the closet / coming out bagi homoseksual khususnya wanita lesbian, adalah7:

a. Penghindaran intimasi khususnya dari orang-orang terdekat, serta menempatkan ketegangan dalam hubungannya dengan pasangan. Sebaliknya semakin terbuka individu tentang orientasi seksualnya, maka semakin sempurna individu tersebut dan menjadi lebih sehat, baik secara fisik maupun emosional.

b. Menyebabkan depresi, ketergantungan terhadap alkohol, drug abuse, bunuh diri dan perilaku lain yang menyakiti diri sendiri.

Coming out adalah proses dari penemuan atau penerimaan diri sendiri dan pemberitahuan tentang orientasi lesbian atau gay (homoseksual) seorang individu kepada orang lain7.


b. Resiko sehubungan dengan kesehatan fisik / biologis

Perilaku seksual tertentu dapat beresiko mengganggu kesehatan fisik / biologis pada kaum homoseksual. Seperti: melakukan hubungan seksual bebas / berganti-ganti pasangan bahkan dengan orang yang tidak dikenal; melakukan hubungan seksual yang tidak aman seperti: tidak menggunakan kondom dan tidak mengetahui diagnosa / status kesehatan seksual (HIV-AIDS, penyakit kelamin) pasangan main; dan melakukan anal sex adalah perilaku-perilaku seksual yang beresiko besar mengganggu kesehatan fisik / biologis kaum homoseksual. 

Dr. Xiridou was studying the spread of HIV among homosexuals in The Netherlands and found that HIV was spread more rapidly among homosexual couples who considered themselves to be in "steady" relationships. These couples failed to engage in "safe sex" and were involved in 6-10 additional sexual encounters outside of the primary relationship each year. Those who considered their sexual relationships "casual" engaged in 16-28 sexual encounters outside of the primary relationship each year. (AIDS,17:1029-1038, 2003)3

Dr. Xiridou melakukan penelitian mengenai penyebaran HIV di antara homoseksual di Belanda dan menemukan bahwa penyebaran HIV lebih cepat diantara pasangan homoseksual yang menganggap mereka menjalani "steady" relationship / hubungan yang "tetap". Pasangan-pasangan ini gagal untuk melibatkan diri dalam perilaku seks yang aman / "safe sex" dan terlibat dalam 6-10 hubungan seksual tambahan diluar dari hubungan dengan pasangan utama mereka setiap tahunnya. Sementara mereka yang menganggap hubungan seksual mereka adalah "casual" terlibat dalam 16-28 hubungan seksual diluar dari dari hubungan dengan pasangan utama mereka setiap tahunnya. (AIDS,17:1029-1038, 2003)3

British health officials in 2004 also expressed concern about homosexuals who use the internet to locate sex orgies, where HIV-infected and non-infected homosexuals engage in unprotected sex3.

Pejabat kesehatan British, UK pada tahun 2004 juga menyatakan keprihatinannya terhadap para homoseksual yang menggunakan Internet untuk mencari pesta seks, dimana orang homoseksual yang terjangkit HIV dan yang tidak terlibat dalam melakukan hubungan seks tanpa pengaman3.

"An epidemiological study" from Vancouver, Canada of data tabulated between 1987 and 1992 for AIDS-related deaths reveals that male homosexual or bisexual practitioners lost up to 20 years of life expectancy. The study concluded that if 3 percent of the population studied were gay or bisexual, the probability of a 20-year-old gay or bisexual man living to 65 years was only 32 percent, compared to 78 percent for men in general. The damaging effects of cigarette smoking pale in comparison-cigarette smokers lose on average about 13.5 years of life expectancy3.

"Sebuah penelitan epidemiologi" dari Vancouver, Canada mentabulasikan data antara tahun 1987 dan 1992 terkait kematian yang disebabkan oleh AIDS dan menemukan bahwa pria homoseksual atau biseksual kehilangan waktu hidup hingga 20 tahun dari perkiraan usia hidupnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa jika 3% dari populasi yang diteliti adalah gay atau biseksual, maka probabilitas / peluang dari seorang pria gay atau biseksual yang berumur 20 tahun untuk dapat hidup sampai dengan usia 65 tahun adalah 32%, dibandingkan dengan 78% pada pria lainnya secara umum. Dampak buruk / merusak dari merokok jika diperbandingkan - perokok kehilangan waktu hidup rata-rata sekitar 13.5 tahun dari perkiran usia hidupnya3.

Resiko-resiko gangguan kesehatan yang dapat dialami dari perilaku seksual tidak sehat tersebut adalah sebagai berikut:

* HIV-AIDS
A 1997 New York Times article reported that a young male homosexual has about a 50 percent chance of getting HIV by middle age. (Sheryl Gay Stolberg, "Gay Culture Weighs Sense and Sexuality," New York Times (Late edition, east coast), November 23, 1997, section 4, p.1)4 

Pada tahun 1197, koran New York Times memuat artikel yang berisi bahwa seorang pria homoseksual mempunyai peluang 50% untuk terjangkit HIV pada usia pertengahan. (Sheryl Gay Stolberg, "Gay Culture Weighs Sense and Sexuality," New York Times (Late edition, east coast), November 23, 1997, section 4, p.1)4 

As of 1998, 54 percent of all AIDS cases in America were homosexual men and according to the Center for Disease Control (CDC) nearly 90 percent of these men acquired HIV through sexual activity with other men. (Centers for Disease Control and Prevention, 1998, June, HIV/AIDS Surveillance Report 10 (1)4). 

Pada tahun 1998, 54% dari semua kasus AIDS di Amerika Serikat adalah pria homoseksual dan menurut Center for Disease Control (CDC), 90% dari pria ini terjangkit HIV melalui akitivitas seks bersama pria lain. (Centers for Disease Control and Prevention, 1998, June, HIV/AIDS Surveillance Report 10 (1)4). 

Even more alarming, the Center for Disease Control & Prevention reported in 1998 that an estimated half of all new HIV infections in the United States are among people under 25. Among 13-to 24-year-olds, 52 percent of all AIDS cases reported among males in 1997 were among young men who have sex with men. (CDC Fact Sheet: "Young People at Risk," Center for Disease Control & Prevention, National Center for HIV, STD and TB Prevention Division of HIV/AIDS Prevention, July 24, 19984) 

Bahkan yang lebih mencengangkan, CDC melaporkan pada tahun 1998 bahwa sekitar setengah dari semua kasus infeksi HIV terbaru di AS terjadi diantara orang berusia dibawah 25 tahun. Diantara orang berusia 13-24 tahun ini, 52% dari seluruh kasus AIDS diantara pria yang tercatat pada tahun 1997 merupakan pria muda yang melakukan hubungan seksual dengan sesama pria. (CDC Fact Sheet: "Young People at Risk," Center for Disease Control & Prevention, National Center for HIV, STD and TB Prevention Division of HIV/AIDS Prevention, July 24, 19984) 

In November, 2003, the CDC stated that HIV infection rates had risen in 29 states. There are an estimated 40,000 new HIV infections yearly with 70% of these being among men. Of those men who are infected, 60% are infected through homosexual sex; 25% through IV drug abuse; and 15% through heterosexual sex3.

Pada bulan November 2003, CDC mengatakan bahwa trend infeksi HIV naik di 29 negara bagian. Diperkirakan setiap tahunnya terdapat 40.000 orang pengidap HIV baru, dan diantaranya adalah 70% pria. Dari pria yang terjangkit ini, 60% diantaranya terinfeksi melalui hubungan homoseksual, 25% melalui narkoba, dan 15% melalui hubungan heteroseksual3.

In April, 2005, the CDC released results of a study of 5,600 gay and bisexual men on their sex habits and attitudes about being tested for HIV. Ten percent of those surveyed were HIV positive. The CDC discovered that among those who were HIV positive, 77% were unaware that they were infected and 50% had engaged in unprotected sex during the previous six months3.

Pada April 2005, CDC mengeluarkan hasil penelitian terhadap 5.600 pria gay dan biseksual mengenai kebiasaan seks dan sikap mereka sewaktu dilakukan tes HIV. 10% dari orang yang disurvey terjangkit HIV positif. CDC menemukan bahwa di antara mereka yang terjangkit HIV positif, 77% tidak mengetahui bawah mereka terinfeksi dan 50% terlibat dalam hubungan seks tanpa pengaman dalam waktu 6 bulan terakhir3.

Sementara menurut data WHO, di Asia jumlah penderita HIV meningkat lebih dari 150%. Dan Indonesia adalah negara dengan pertumbuhan epidemik HIV tercepat. Di Indonesia menurut data KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) sampai dengan 30 September 2007 secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan sebanyak Kasus AIDS : 10384 dengan provinsi yang melaporkan AIDS sebanyak 32 provinsi dan Kabupaten/Kota yang melaporkan AIDS sebanyak186 kab/kota . Cara penularan kasus AIDS kumulatif yang dilaporkan melalui IDU (Injecting Drug User) 49,5%, Heteroseksual 42%, dan Homoseksual 4%6.

Jika dilihat dari data ini, seakan kasus AIDS dengan cara penularan melalui hubungan homoseksual terbilang sangat minim. Tapi hasil pendataan WHO menyebutkan bahwa angka 49.5% bagi cara penularan IDU adalah angka tertinggi untuk penyebab kasus AIDS di Indonesia. Dengan mengetahui data ini, kaum homoseksual sudah selayaknya peka dan dan lebih peduli dalam menyikapi fenomena adanya 4% (+/- 415 orang) kaum homoseksual yang terkena HIV-AIDS. Penjelasan mengenai hubungan kerentanan Homoseksual dengan IDU akan dijelaskan setelah ini.

* Anal Cancer
According to J. R. Daling et.al, "Correlates of Homosexual Behavior and the Incidence of Anal Cancer," Journal of the American Medical Association 247, no.14, 9 April 1982, pp. 1988-90, the risk of anal cancer soars by 4000 percent among those who engage in anal intercourse4.

Menurut J.R. Daling et.al, "Correlates of Homosexual Behavior and the Incidence of Anal Cancer," Journal of the American Medical Association 247, no.14, 9 April 1982, pp. 1988-90, resiko kanker anal (dubur) melesat hingga 4000% diantara mereka yang terlibat dalam berhubungan seks menggunakan lubang anal (dubur) 4.

In 2004, health officials in King County, Washington, reported a dramatic rise in cases of anal cancer as a result of homosexual sex3.

Pada tahun 2004, pejabat kesehatan di King County, Washington, melaporkan adanya kenaikan drastis pada kasus-kasus kanker anal akibat hubungan seks homoseksual3.

* STI's / STD's lainnya, seperti: chlamydia trachomatis, cryptosporidium, giardia lamblia, herpes simplex virus, human papilloma virus (HPV) or genital warts, isospora belli, microsporidia, gonorrhea, viral hepatitis types B & C and syphilis4.

While 'always' condom use reduces the risk of contracting HIV by about 85%, Condoms, even when used 100% of the time, fail to give adequate levels of protection against many non-HIV STDs such as Syphilis, Gonorrhoea, Chlamydia, Herpes, Genital Warts and others. The only safe sex is, apart from abstinence, mutual monogamy with an uninfected partner. (Sex, Condoms, and STDs: What We Now Know. Medical Institute for Sexual Health. 2002)1.

Sementara penggunaan kondom dapat mengurangi resiko terjangkit HIV sebesar 85%, kondom bahkan jika digunakan 100% sepanjang waktu, gagal memberikan tingkat perlindungan yang adekuat dari banyak STD’s di luar HIV seperti Syphilis, Gonorrhoea, Chlamydia, Herpes, Genital Warts dan lainnya. Satu-satunya seks yang aman, selain dengan menahan diri (nafsu /hasrat), adalah dengan melakukan monogami mutual dengan pasangan yang tidak terinfeksi. (Sex, Condoms, and STD's: What We Now Know. Medical Institute for Sexual Health. 2002)1.


c. Resiko yang sehubungan dengan kedua-keduanya (kesehatan mental & emosional dan kesehatan fisik / biologis)

Perilaku dibawah ini menyangkut resiko rusaknya kondisi fisik, terganggunya kesehatan fisik / biologis serta terganggunya kondisi mental & emosional seorang homoseksual. Kedua faktor ini saling terhubung / berkorelasi satu sama lain. 

* Domestic Violence / Sex - Physical - Emotional Abuse
Hubungan di antara sesama homoseksual seringkali diwarnai dengan kekerasan baik itu kekerasan seksual, fisik, maupun emosional. Motif dibaliknya seringkali dikarenakan masalah / gangguan mental dan emosional pada diri si pelaku homoseksual. 

A recent study published in the American Journal of Public Health has shown that 39 percent of males with same-sex attraction have been abused by other homosexual men4. 

Sebuah penelitian terbaru akhir-akhir ini yang diterbitkan dalam American Journal of Public Health menemukan bahwa 39% pria yang tertarik dengan sesama jenis pernah mengalami kekerasan / penganiayaan oleh pria homoseksual lainnya4.

In 2003, the National Coalition of Anti-Violence Programs issued a study on the high rate of domestic violence among homosexual couples. The group tracked violent incidents among gay couples from 2002 and found 5,000 cases, including four murders. The statistics gathered are thought to be only a fraction of the total number of violent incidents3.

Pada tahun 2003, National Coalition of Anti-Violence Programs (Program koalisi nasional anti kekerasan) mengeluarkan sebuah penelitian mengenai tingginya kasus KDRT diantara pasangan homoseksual. Penelitian ini mencatat kekerasan yang terjadi diantara pasangan gay semenjak tahun 2002 dan menemukan adanya 5000 kasus termasuk 4 pembunuhun. Data statistik yang terkumpul ini baru sebuah bagian kecil yang terkumpul dari aksi kekerasan yang ada3.

A study by Susan Turrell entitled "A descriptive analysis of Same-Sex Relationship Violence for a Diverse Sample," and published in the Journal of Family Violence (vol 13, pp 281-293), found that relationship violence was a significant problem for homosexuals. Forty-four percent of gay men reported having experienced violence in their relationship; 13 percent reported sexual violence and 83 percent reported emotional abuse. Levels of abuse ran even higher among lesbians with 55 percent reporting physical violence, 14 percent reporting sexual abuse and 84 percent reporting emotional abuse4. 

Sebuah penelitian oleh Susan Turrell berjudul "A descriptive analysis of Same-Sex Relationship Violence for a Diverse Sample" dan diterbitkan dalam Journal of Family Violence (vol 13, pp 281-293), menemukan bahwa kekerasan dalam hubungan merupakan masalah yang signifikan pada homoseksual. 44% pria gay melaporkan bahwa mereka pernah merasakan kekerasan dalam hubungan mereka; 13% melaporkan kekerasan seksual dan 83% melaporkan penganiayaan / penderaan emosional. Tingkat kekerasan lebih tinggi terjadi pada para lesbian dengan 55% melaporkan kekerasan fisik, 14% melaporkan kekerasan seksual dan 84% melaporkan penderaan emosional 4.  

According to a summary of this study by Knight-Ridder, studies have estimated that domestic violence among gay males ranges from 12% to 36%, which is roughly the same as for heterosexual women. In the coalition study, 34% had experienced psychological/symbolic battering; 22% had experienced physical battering, and 5% sexual battering3. 

Menurut sebuah rangkuman yang dibuat oleh Knight-Ridder, penelitian memperkirakan bahwa kekerasan domestik / KDRT yang terjadi diantara pria gay berkisar dari 12% hingga 36%, dimana hampir sama dengan wanita homoseksual. Di dalam penelitian koalisi, 34% pernah mengalami kekerasan psikologis / simbolik; 22% pernah mengalami kekerasan fisik, dan 5% kekerasan seksual3.  

In a separate study published in The Journal of Men's Studies, (March 22, 2003), researchers noted that a survey of gay domestic violence in 2000 revealed that of 52 respondents, 79% had experienced pushing, shoving, or grabbing; 77% had experienced restraining or the blocking of an exit by a partner; 64% had experienced punching, hitting, or striking with hands or fists; 54% had been slapped3.  

Dalam penelitian terpisah yang diterbitkan dalam The Journal of Men's Studies (22 Maret, 2003), par peneliti mencatat bahwa sebuah survey tahun 2000 mengenai KDRTpada gay menemukan dari 52 responden, 79% pernah mengalami didorong, dijoroki ataupun ditarik; 77% pernah mengalami dihalang-halangi atau dilarang keluar oleh pasangannya; 64% pernah mengalami pemukulan dengan tangan atau kepalan tinju; 54% pernah ditampar3.  

A 1998 study revealed that of those surveyed, 62% had been threatened with a weapon and 85% had experienced significant property or financial loss from an angry partner. In addition, 39% had been forced to have sex against their will by a homosexual partner3.

Sebuah penelitian pada tahun 1998 menemukan bahwa dari orang-orang yang disurvei, 62% pernah diancam dengan menggunakan sejata dan 85% pernah mengalami kehilangan atau kerusakan barang atau uang karena / yang dilakukan oleh pasangan yang marah. Sebagai tambahan, 39% pernah dipaksa untuk melakukan hubungan seksual oleh pasangan homoseksualnya tanpa kehendak / persetujuan dari dirinya3.

* Substance Abuse / Penyalahgunaan NAPZA ( Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) / Narkoba
Kondisi mental dan emosional yang bermasalah; dan lifestyle / gaya hidup kaum homoseksual dapat mempengaruhi seseorang untuk menggunakan narkoba dan minum minuman keras. Penyalahgunaan zat-zat aditif ini meliputi narkoba (ectasy, putauw / heroin, ganja, morfin, kokain / shabu-shabu, cannabis), dan minuman keras. Penyalahgunaan zat demikian dapat mempengaruhi kesehatan tubuh seperti (gangguan otak, syaraf, hati, dsb.), juga dapat mempengaruhi kesehatan mental dan emosional (menjadi lebih emosional, lebih numb / tidak merasakan apapun, paranoid, delusi, halusinasi, dsb.). 

Penyalahgunaan narkoba dan minum-minuman keras membuat seseorang berada dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar, dan dalam keadaan demikian orang tersebut tidak dapat mengkontrol / mengendalikan dirinya sendiri. Pada saat demikian, banyak sekali resiko yang harus siap dihadapi. 

Studies from around the globe all point to continued high rates of substance abuse among homosexuals. A report published in the Atlanta Journal-Constitution (April 18, 2004), indicated that there’s a growing trend among young homosexual males to use Crystal Meth to prolong sexual activities during sex orgies. Those using Crystal were three times as likely to be HIV infected3.

Penelitian dari seluruh dunia menunjukkan adanya pemakaian narkoba yang cukup tinggi diantara pasangan homoseksual. Sebuah laporan yang diterbitkan dalam The Atlanta Journal-Constitutuion (18 April, 2004), mengindikasikan adanya peningkatan trend diantara pria muda homoseksual, dimana mereka menggunakan ekstasi untuk mempertahankan aktivitas seksual selama pesta seks berlangsung. Mereka yang menggunakan ekstasi tiga kali lebih mungkin terjangkit HIV3.

Health officials in Seattle reported in 2001 that drug use among homosexuals was on the rise as a way of increasing sexual pleasure. Drug use is related to unprotected and anonymous sex among homosexual males. The Midwest AIDS Prevention Project published the following statistics on substance abuse among homosexuals in 20043:
Nearly 10% of gay and bisexual men responding to a Michigan Department of Community Health survey reported that they had engaged in unprotected sex when they were high or drunk. Among gay male teenagers, 68% reported alcohol use; 44% reported drug use; among lesbians: 83% had used alcohol; 56% had used drugs.

Pejabat kesehatan di Seattle melaporkan pada tahun 2001 penggunaan narkoba diantara pasangan homoseksual menunjukkan trend yang meningkat yang dilakukan sebagai sebuah cara untuk meningkatkan kepuasan seksual. Penggunaan narkoba berhubungan dengan melakukan hubungan seksual tanpa pengaman dan melakukan hubungan seks dengan pria-pria homoseksual yang tidak dikenal. The Midwest AIDS Prevention Project menerbitkan statistik berikut tentang penggunaan narkoba diantar kaum homoseksual pada tahun 20043:
Hampir 10% dari pria gay dan biseksual yang ikut serta dalam survey yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan Masyarakat kota Michigan ini melaporkan bahwa mereka pernah melakukan hubungan seks tanpa pengaman selagi mereka mabuk atau high. Diantara pria gay remaja, 68% minum-minuman keras, 44% menggunakan narkoba; sedangkan diantara lesbian: 83% mengkonsumsi alkohol; 56% menggunakan narkoba.

In a 1992 survey of San Francisco lesbian and bisexual women, 30% had used drugs other than alcohol; one in seven women had experienced violence when drunk or high; and 29% reported sexual abuse3.

Pada tahun 1992 sebuah survey mengenai wanita lesbian dan biseksual di Fransisco, 30% diantaranya pernah menggunakan narkoba selain alkohol; 1 dari 7 wanita pernah mengalami kekerasan ketika sedang mabuk atau high; dan 29% melaporkan mengalami kekerasan seksual3.

According to this article, "Data consistently show that drug use—particularly intravenous drug use—is associated with about a 40% increased risk of HIV infection." (Sharon Worcester, "Drug abuse in gay men linked to other issues: depression, partner abuse, and childhood sexual abuse are often intertwined with drug abuse," (Family Practice News, March 1, 2005. 3)

Menurut artikel ini, "Secara konsisten data menunjukkan bahwa penggunaan narkoba - terutama yang masuk ke dalam pembuluh darah - berhubungan dengan meningkatnya resiko terinfeksi HIV sebesar 40%." (Sharon Worcester, "Drug abuse in gay men linked to other issues: depression, partner abuse, and childhood sexual abuse are often intertwined with drug abuse," (Family Practice News, March 1, 2005. 3)

Demikianlah gambaran keseluruhan mengenai resiko-resiko yang rentan dihadapi kaum homoseksual yang di peroleh dari hasil riset ilmiah dan obyektif. Penjelasan di atas, pada akhirnya bertujuan menghadirkan pengetahuan, akan berbagai hal yang harus dan sebaiknya di ketahui oleh setiap orang, baik itu kaum homoseksual maupun heteroseksual, Kita semua diharapkan menjadi lebih peka dan waspada terhadap resiko dan ancaman yang bisa merusak / merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Dan dengan pengetahuan ini pula, setiap orang, termasuk kaum homoseksual dapat mengambil sikap dan pilihan yang tepat, tidak hanya mengetahui resikonya, namun tahu apa konsekuensinya dan siap menjalaninya, bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya, serta melakukan pencegahan yang diperlukan agar pilihan sikapnya tidak menimbulkan kerugian baik bagi dirinya maupun orang lain. 

Sementara bagi kaum heteroseksual, pengetahuan ini bertujuan tidak hanya memberi ilmu dan informasi, tapi sekaligus menjadi bekal untuk membantu kaum homoseksual menyikapi persoalan yang dialami mereka secara bijaksana agar tercipta lingkungan yang lebih konstruksif bagi terbinanya jiwa - mental yang lebih sehat. 

Tulisan berikutnya akan membahas bagaimana individu menyikapi homoseksualitas pada dirinya, bagaimana menanggulanginya, serta bahasan lain seputar mekanisme konstruktif yang bisa di lakukan.

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

 Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)
  Kategori Klinis
  Oleh : Veronica Adesla, S.Psi
  Jakarta,  
   

Peristiwa-peristiwa traumatik dapat terjadi dalam kehidupan seseorang tanpa dapat diprediksi sebelumnya dan tanpa adanya persiapan apapun. Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda ketika dihadapkan pada peristiwa traumatik seperti ini. Pada beberapa orang, peristiwa traumatik ini membuatnya menjadi trauma, ia tidak mampu menjalankan kesehariannya seperti biasa (sebelum peristiwa tersebut terjadi), bayangan akan peristiwa tersebut senantiasa kembali dalam ingatannya dan mengusiknya, ia juga merasa tak mampu mengatasinya. Mereka yang mengalami hal demikian mungkin mengalami apa yang disebut dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Post-traumatic stress disorder (PTSD) can affect those who personally experience the catastrophe, those who witness it, and those who pick up the pieces afterwards, including emergency workers and law enforcement officers. It can even occur in the friends or family members of those who went through the actual trauma (Smith & Segal. 2008).

Post-traumatic stress disorder dapat mempengaruhi mereka yang secara pribadi mengalami bencana atau musibah besar, mereka yang menjadi saksi atas kejadian tersebut, dan mereka yang membantu dalam kejadian tersebut, termasuk pekerja sosial dan petugas keamanan. Bahkan hal ini dapat terjadi di kalangan teman atau kerabat dari orang yang mengalami trauma (Smith & Segal. 2008). 

Beberapa sumber mendefinisikan Post Traumatic Stress Disorder sebagai berikut:

Post Traumatic Stress Disorder is an anxiety disorder that can develop after exposure to a terrifying event or ordeal in which grave physical harm occurred or was threatened (American Psychological Association, 2004). 

Post Traumatic Stress Disorder adalah gangguan kecemasan yang dapat terbentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang menakutkan/mengerikan, sulit dan tidak menyenangkan dimana terdapat penganiayaan fisik atau perasaan terancam (American Psychological Association, 2004).  

 Post-traumatic stress disorder (PTSD) is a disorder that can develop following a traumatic event that threatens your safety or makes you feel helpless (Smith & Segal, 2008). 

Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah sebuah gangguan yang dapat terbentuk dari peristiwa traumatik yang mengancam keselamatan anda atau membuat anda merasa tidak berdaya (Smith & Segal, 2008). 

Peristiwa yang dapat dikategorikan sebagai peristiwa traumatik pada umumnya mengandung tiga buah elemen sebagai berikut (Jaffe, Segal, & Dumke, 2005): 

1. Kejadian tersebut tidak dapat diprediksi (It was unexpected)

2. Orang yang mengalami kejadian tersebut tidak siap dihadapkan pada kondisi / kejadian demikian (The person was unprepared)

3. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang tersebut untuk mencegah terjadinya peristiwa tersebut (There was nothing the person could do to prevent it from happening)

 

... any overwhelming life experience can trigger PTSD, especially if the event is perceived as unpredictable and uncontrollable (Smith & Segal. 2008).

 

... pengalaman hidup apapun yang terlalu "mengguncang" dapat memicu PTSD, terutama jika peristiwa tersebut dilihat sebagai sesuatu yang tidak dapat diduga dan dikendalikan / dikontrol (Smith & Segal. 2008).



Smith & Segal menyebutkan peristiwa traumatik yang dapat mengarah kepada munculnya PTSD termasuk:
Perang (War)
Pemerkosaan (Rape)
Bencana alam (Natural disasters)
Kecelakaan mobil / Pesawat (A car or plane crash)
Penculikan (Kidnapping)
Penyerangan fisik (Violent assault) 
Penyiksaan seksual / fisik (Sexual or physical abuse)
Prosedur medikal - terutama pada anak-anak (Medical procedures - especially in kids)


Selama bertahun-tahun penelitian, 17 gejala / simptom PTSD telah dapat diidentifikasi. Simptom-simptom tersebut ditulis dalam the 4th edition of the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV). Ke-17 simptom tersebut dibagi kedalam tiga kelompok besar. Ketiga kelompok tersebut, dan simptom-simptom spesifik yang ada di dalamnya dijelaskan di bawah ini:

1. Merasakan kembali peristiwa traumatik tersebut (Re-Experiencing Symptoms)
Secara berkelanjutan memiliki pikiran atau ingatan yang tidak menyenangkan mengenai peristiwa traumatik tersebut (Frequently having upsetting thoughts or memories about a traumatic event).
Mengalami mimpi buruk yang terus menerus berulang (Having recurrent nightmares).
Bertindak atau merasakan seakan-akan peristiwa traumatik tersebut akan terulang kembali, terkadang ini disebut sebagai "flashback" (Acting or feeling as though the traumatic event were happening again, sometimes called a "flashback").
Memiliki perasaan menderita yang kuat ketika teringat kembali peristiwa traumatik tersebut (Having very strong feelings of distress when reminded of the traumatic event).
Terjadi respon fisikal, seperti jantung berdetak kencang atau berkeringat ketika teringat akan peristiwa traumatik tersebut (Being physically responsive, such as experiencing a surge in your heart rate or sweating, to reminders of the traumatic event).

2. Menghindar (Avoidance Symptoms)
Berusaha keras untuk menghindari pikiran, perasaan atau pembicaraan mengenai peristiwa traumatik tersebut (Making an effort to avoid thoughts, feelings, or conversations about the traumatic event).
Berusaha keras untuk menghindari tempat atau orang-orang yang dapat mengingatkan kembali akan peristiwa traumatik tersebut (Making an effort to avoid places or people that remind you of the traumatic event).
Sulit untuk mengingat kembali bagian penting dari peristiwa traumatik tersebut (Having a difficult time remembering important parts of the traumatic event).
Kehilangan ketertarikan atas aktifitas positif yang penting (A loss of interest in important, once positive, activities).
Merasa "jauh" atau seperti ada jarak dengan orang lain (Feeling distant from others).
Mengalami kesulitan untuk merasakan perasaan-perasaan positif, seperti kesenangan / kebahagiaan atau cinta / kasih sayang ( Experiencing difficulties having positive feelings, such as happiness or love).
Merasakan seakan-akan hidup anda seperti terputus ditengah-tengah - anda tidak berharap untuk dapat kembali menjalani hidup dengan normal, menikah dan memiliki karir (Feeling as though your life may be cut short - you don’t expect to live a normal life span, get married, have a career).

3. Waspada(Hyperarousal Symptoms)
Sulit untuk tidur atau tidur tapi dengan gelisah (Having a difficult time falling or staying asleep).
Mudah / lekas marah atau meledak-ledak (Feeling more irritable or having outbursts of anger).
Memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi (Having difficulty concentrating).
Selalu merasa seperti sedang diawasi atau merasa seakan-akan bahaya mengincar di setiap sudut "Feeling constantly "on guard" or like danger is lurking around every corner".
Menjadi gelisah, tidak tenang, atau mudah "terpicu" / sangat "waspada" (Being "jumpy" or easily startled).

Apakah anda membutuhkan semua simptom ini untuk diagnosa PTSD?

Untuk di-diagnosa mengalami PTSD, seseorang tidak perlu memiliki semua simptom di atas. Dalam faktanya, sangat jarang seseorang dengan PSTD mengalami seluruh simptom yang tertulis diatas. Untuk di-diagnosa mengalami PTSD, seseorang hanya perlu beberapa simptom dari setiap kelompok. Dan tentunya persyaratan tambahan untuk diagnosa PTSD juga perlu dites, seperti bagaimana seseorang merespon peristiwa traumatik tersebut, berapa lama simptom tersebut dialami, dan seberapa luas simptom tersebut mempengaruhi kehidupannya.

Tahap Perkembangan Kemampuan Bicara dan Berbahasa

Tahap Perkembangan Kemampuan Bicara dan Berbahasa 
  Kategori Anak
  Oleh : Jacinta F. Rini
  Jakarta, 
   

Berikut ini akan disajikan informasi seputar tahapan perkembangan bahasa dan bicara seorang anak. Namun perlu diperhatikan, bahwa batasan-batasan yang tertera juga bukan merupakan batasan yang kaku mengingat keunikan setiap anak berbeda satu dengan yang lain. Menurut Dr. Miriam Stoppard (1995) tahapan perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa dapat dibagi sebagai berikut:

0 - 8 Minggu
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Pada masa awal, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara yang didengarnya. Sebenarnya tidak hanya itu, sejak lahir ia sudah belajar mengamati dan mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu. Meskipun masih bayi, seorang anak akan mampu memahami dan merasakan adanya komunikasi dua arah dengan memberikan respon lewat gerak tubuh dan suara. Sejak dua minggu pertama, ia sudah mulai terlibat dengan percakapan, dan pada minggu ke-6 ia akan mengenali suara sang ibu, dan pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respon terhadap suara yang dikenalinya. 
Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
Semakin dini orang tua menstimulasi anaknya dengan cara mengajaknya bercakap-cakap dan menunjukkan sikap yang mendorong munculnya respon dari si anak, maka sang anak akan semakin dini pula tertarik untuk belajar bicara. Tidak hanya itu, kualitas percakapan dan bicaranya juga akan lebih baik. Jadi, teruslah mengajak anak Anda bercakap-cakap sejak hari pertama kelahirannya. 
Jalinlah komunikasi dengan dihiasi oleh senyum Anda, pelukan, dan perhatian. Dengan demikian anak Anda akan termotivasi untuk berusaha memberikan responnya. 
Tunjukkanlah selalu kasih sayang melalui peluk-cium, dan kehangatan yang bisa dirasakan melalui intonasi suara Anda. Dengan demikian, Anda menstimulasi terjalinnya ikatan emosional yang erat antara Anda dengan anak Anda sekaligus membesarkan hatinya. 
Selama menjalin komunikasi dengan anak Anda, jangan lupa untuk melakukan kontak mata secara intensif karena dari pandangan mata tersebutlah anak bisa merasakan perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengertian. Jika sedang bicara, tataplah matanya dan jangan malah membelakangi dia. 
Jika anak Anda menangis, jangan didiamkan saja. Selama ini banyak bereda pandangan keliru, bahwa jika bayi menangis sebaiknya didiamkan saja supaya nantinya tidak manja dan bau tangan. Padahal, satu-satunya cara seorang bayi baru lahir untuk mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhannya (haus, lapar, kedinginan, kepanasan, kebutuhan emosional, kelelahan, kebosanan) dia adalah melalui tangisan. Jadi, jika tangisannya tidak Anda pedulikan, lama-lama dia akan frustasi karena kebutuhannya terabaikan. Yang harusnya Anda lakukan adalah memberinya perlakuan seperti yang dibutuhkannya saat ia menangis. Untuk itu, kita sebagai orang tua haruslah belajar memahami dan mengerti bahasa isyaratnya. Tidak ada salahnya, jika Anda seakan-akan bertanya padanya, seperti: "rupanya ada sesuatu yang kamu inginkan,....coba biar Ibu lihat..." 


8 - 24 Minggu
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti 'eh', 'ah', 'uh', 'oh' dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti 'm', 'p', 'b', 'j' dan 'k'. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan "tunggal" dengan menyuarakan 'gaga', 'ah goo', dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan bublling. Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan 'ma', 'ka', 'da' dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang tuanya atau orang lain katakan. Lucunya, anak-anak itu akan bermain dengan suaranya sendiri dan terus mengulang apa yang didengar dari suaranya sendiri. 
Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
Untuk bisa berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui latihan gerakan mulut, lidah, bibir. Sebenarnya, aktivitas menghisap, menjilat, menyemburkan gelembung dan mengunyah merupakan kemampuan yang diperlukan. Oleh sebab itu, latihlah anak Anda baik dengan permainan maupun dengan makanan. 
Sering-seringlah menyanyikan lagu untuk anak Anda dengan lagu-lagu anak-anak yang sederhana dan lucu, secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Bernyanyilah dengan diselingi permainan-permainan yang bernada serta menarik. Jadi, luangkan lah waktu Anda untuk terlibat dalam kegiatan menarik seperti itu agar kemampuan bicara dan berbahasa anak Anda lebih berkembang. 
Salah satu cara seorang anak berkomunikasi di usia ini adalah melalui tertawa. Oleh sebab itu, sering-seringlah bercanda dengannya, tertawa, membuat suara-suara dan ekspresi lucu agar kemampuan komunikasi dan interaksinya meningkat dan mendorong tumbuhnya kemampuan bahasa dan bicara. 
Setiap bayi yang baru lahir, mereka akan belajar melalui pembiasaan atau pun pengulangan suatu pola, kegiatan, nama atau peristiwa. Melalui mekanisme ini Anda mulai bisa mengenalkan kata-kata yang bermakna pada anak pada saat melakukan aktivitas rutin, seperti : pada waktu mau makan, Anda bisa katakan "nyam-nyam"


28 Minggu - 1 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa 
Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan 'ba', 'da', 'ka' secara jelas sekali. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan dengan penuh intonasi. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang beberapa suku kata yang sebelumnya sudah mampu diucapkannya. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu, ia mulai mengerti kata "tidak" dan mengikuti instruksi sederhana seperti 'bye-bye' atau main 'ciluk-baa'. Ia juga mulai bisa meniru bunyi binatang seperti 'guk', 'kuk', 'ck'..
Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
Jadilah model yang baik untuk anak Anda terutama pada masa ini lah mereka mulai belajar meniru kata-kata yang didengarnya dan mengucapkannya kembali. Ucapkan kata-kata dan kalimat Anda secara perlahan, jelas dengan disertai tindakan (agar anak tahu artinya atau korelasinya antara kata yang Anda ucapkan dengan tindakan kongkritnya), dan jangan lupa, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Anda juga harus pas. 
Anak Anda akan belajar bicara dengan bahasa yang tidak jelas bagi Anda. Jadi, ini lah waktunya untuk Anda berdua (Anda dengan anak) saling belajar untuk bisa saling memahami keinginan dan maksud berdua. Jadikanlah kegiatan ini sebagai salah satu bentuk permainan yang menyenangkan agar anak Anda tidak patah semangat untuk terus mencoba mengucapkan secara pas dan jelas. Namun, jika Anda malas memperhatikan "suaranya", apa yang dimaksudnya, dan tidak mengulangi suaranya, atau bahkan ekspresi wajah Anda membuat dirinya jadi enggan mencoba, maka anak Anda akan merasa bahwa "tidak memungkinkan baginya untuk mencoba mengekspresikan keinginan karena orang dewasa tidak akan ada yang mengerti dan mau mendengarkan". 
Kadang-kadang, ikutilah gumamannya, namun, Anda juga perlu mengucapkan kata secara benar. Jika suatu saat ia berhasil mengucapkan suatu suku kata atau kata dengan benar, berilah pujian yang disertai dengan pelukan, ciuman, tepuk tangan..dan sampaikan padanya, "betapa pandainya dia". 
Jika mengucapkan sebuah kata, sertailah dengan penjelasan artinya. Lakukan hal ini terus menerus meski tidak semua dimengertinya. Penjelasan bisa dilakukan misal dengan menunjukkan gambar, gerakan, sikap tubuh, atau pun ekspresi. 


1 Tahun - 18 Bulan
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Pada usia setahun, seorang anak akan mampu mengucapkan dua atau tiga patah kata yang punya makna. Sebenarnya, ia juga sudah mampu memahami sebuah obyek sederhana yang diperlihatkan padanya. Pada usia 15 bulan, anak mulai bisa mengucapkan dan meniru kata yang sederhana dan sering didengarnya untuk kemudian mengekspresikannya pada porsi/ situasi yang tepat. Usia 18 bulan, ia sudah mampu menunjuk obyek-obyek yang dilihatnya di buku dan dijumpainya setiap hari. Selain itu ia juga mampu menghasilkan kurang lebih 10 kata yang bermakna. 
Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
Semakin mengenalkan anak Anda dengan berbagai macam suara, bunyi, seperti misalnya suara mobil, motor, kucing, anjing, dsb. Kenalkan pula pada suara-suara yang sering didengarnya sehari-hari, seperti pintu terbuka-tertutup, suara air, suara angin berdesir di pepohonan, kertas dirobek, benda jatuh, dsb. 
Sering-seringlah membacakan buku-buku yang sangat sederhana namun sarat dengan cerita yang menarik untuk anak dan gambar serta warna yang "eye catching". Tunjukkan obyek-obyek yang terlihat di buku, sebutkan namanya, jelaskan apa yang sedang dilakukannya, bagaimana jalan ceritanya. Minta lah padanya untuk mengulang nama yang Anda sebutkan, dan jangan lupa, berilah pujian jika ia berhasil mengingat dan mengulang nama yang Anda sebutkan. 
Jika sedang bersamanya, sebutkan nama-nama benda, warna dan bentuk pada setiap obyek yang dilihatnya.
Anda mulai bisa mengenalkan dengan angka dengan kegiatan seperti menghitung benda-benda sederhana yang sedang dibuat permainan. Lakukan itu dalam suasana yang santai dan nyaman agar anak tidak merasa ada tekanan keharusan untuk menguasai kemampuan itu.


18 Bulan - 2 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Pada rentang usia ini, kemampuan bicara anak semakin tinggi dan kompleks. Perbendaharaan katanya pun bisa mencapai 30 kata dan mulai sering mengutarakan pertanyaan sederhana, seperti 'mana ?', 'dimana?' dan memberikan jawaban singkat, seperti 'tidak', 'disana', 'disitu', 'mau'. Pada usia ini mereka juga mulai menggunakan kata-kata yang menunjukkan kepemilikan, seperti 'punya ani', 'punyaku'. Bagaimana pun juga, sebuah percakapan melibatkan komunikasi dua belah pihak, sehingga anak juga akan belajar merespon setelah mendapatkan stimulus. Semakin hari ia semakin luwes dalam menggunakan kata-kata dan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang dihadapinya dan mengutarakan kebutuhannya. Namun perlu diingat, oleh karena perkembangan koordinasi motoriknya juga belum terlalu sempurna, maka kata-kata yang diucapkannya masih sering kabur, misalnya 'balon' jadi 'aon', 'roti' jadi 'oti'. 
Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
Mulailah mengenalkan anak Anda pada perbendaharaan kata yang menerangkan sifat atau kualitas. Seperti "baik, indah, cantik, dingin, banyak, sedikit, asin, manis, nakal, jelek", dsb. Caranya, pada saat Anda mengucapkan suatu kata tertentu, sertailah dengan kualitas tersebut, misalnya "anak baik, anak manis, anak pintar, baju bagus, boneka cantik, anak nakal, roti manis", dsb.
Mulailah mengenalkan padanya kata-kata yang menerangkan keadaan atau peristiwa yang terjadi: sekarang, besok, di sini, di sana, kemarin, nanti, segera, dsb. 
Anda juga bisa mengenalkannya kata-kata yang menunjukkan tempat: di atas, di bawah, di samping, di tengah, di kiri, di kanan, di belakang, di pinggir; Anda bisa melakukannya dengan menggunakan contoh gerakan. Banyak model permainan yang dapat Anda gunakan untuk menerangkan kata-kata tersebut, bahkan dengan permainan, akan jauh lebih menyenangkan baginya dan bagi Anda. 
Yang perlu Anda ingat, janganlah menyetarakan perkembangan anak Anda dengan anak-anak lainnya karena tiap anak mempunyai dan mengalami hambatan yang berbeda-beda. Jadi, jika anak Anda kurang lancar dan fasih berbicara, janganlah kemudian menekannya untuk lekas-lekas mengoptimalkan kemampuannya. Keadaan ini hanya akan membuatnya stress.


2 Tahun - 3 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Seorang anak mulai menguasai 200 - 300 kata dan senang bicara sendiri (monolog). Sekali waktu ia akan memperhatikan kata-kata yang baru didengarnya untuk dipelajari secara diam-diam. Mereka mulai mendengarkan pesan-pesan yang penuh makna, yang memerlukan perhatian dengan penuh minat dan perhatian. Perhatian mereka juga semakin luas dan semakin bervariasi. Mereka juga semakin lancar dalam bercakap-cakap, meski pengucapannya juga belum sempurna. Anak seusia ini juga semakin tertarik mendengarkan cerita yang lebih panjang dan kompleks. Jika diajak bercakap-cakap, mudah bagi mereka untuk loncat dari satu topik pembicaraan ke yang lainnya. Selain itu, mereka sudah mampu menggunakan kata sambung "sama", misalnya "ani pergi ke pasar sama ibu", untuk menggambarkan dan menyambung dua situasi yang berbeda. Pada usia ini mereka juga bisa menggunakan kata "aku", "saya", "kamu" dengan baik dan benar. Dengan banyaknya kata-kata yang mereka pahami, mereka semakin mengerti perbedaan antara yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa sekarang. 
Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua 
Pada usia ini, anak Anda akan lebih senang bercakap-cakap dengan anak-anak seusianya dari pada dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, akan baik jika ia banyak dikenalkan dengan anak-anak seusianya dan dilibatkan pada lingkungan sosial yang bisa memfasilitasi kemampuan sosial dan berkomunikasinya. Salah satu tujuan para orang tua memasukkan anaknya dalam nursery school adalah karena alasan tersebut, agar anaknya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus sosialisasi. Meskipun demikian, bahasa dan kata-kata yang diucapkan masih bersifat egosentris, namun lama kelamaan akan lebih bersifat sosial seiring dengan perkembangan usia dan keluasan jaringan sosialnya. 
Sering-seringlah menceritakan cerita menarik pada anak Anda, karena sebenarnya cerita juga merupakan media atau sarana untuk mengekspresikan emosi, menamakan emosi yang disimpannya dalam hati, dan belajar berempati. Dari kegiatan ini pula lah anak Anda tidak hanya belajar berani mengekspresikan diri secara verbal tapi juga belajar perilaku sosial. 
Ceritakan padanya cerita yang lebih kompleks dan kenalkan beberapa kata-kata baru sambil menerangkan artinya. Lakukan ini secara terus menerus agar ia dapat mengingatnya dan mengenalinya dengan mudah ketika Anda mengulang cerita itu kembali di lain waktu. 


3 - 4 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang bersifat perintah; hal ini juga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang kuat dalam menggunakan kata-kata dan menguasai keadaan. Mereka senang sekali mengenali kata-kata baru dan terus berlatih untuk menguasainya. Mereka menyadari, bahwa dengan kata-kata mereka bisa mengendalikan situasi seperti yang diinginkannya, bisa mempengaruhi orang lain, bisa mengajak teman-temannya atau ibunya. Mereka juga mulai mengenali konsep-konsep tentang kemungkinan, kesempatan, dengan "andaikan", "mungkin", "misalnya", "kalau". Perbendaharaan katanya makin banyak dan bervariasi seiring dengan peningkatan penggunaan kalimat yang utuh. Anak-anak itu juga makin sering bertanya sebagai ungkapan rasa keingintahuan mereka, seperti "kenapa dia Ma?", "sedang apa dia Ma?", "mau ke mana?" 
Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
Hindari sikap mengkoreksi kesalahan pengucapan kata anak secara langsung, karena itu akan membuatnya malu dan malah bisa mematahkan semangatnya untuk belajar dan berusaha. Anda bisa mengulangi kata-kata tersebut secara jelas seolah Anda mengkonfirmasi apa yang dimaksudkannya. Dengan demikian, ia akan memahami kesalahannya tanpa merasa harus malu. 
Pada usia ini, seorang anak sudah mulai bisa mengerti penjelasan sederhana. Oleh sebab itu, Anda bisa mulai mencoba untuk mengajaknya mendiskusikan soal-soal yang sangat sederhana; dan tanyakan apa pendapatnya tentang persoalan itu. Dengan cara itu, Anda melatih cara dan proses penyelesaian masalah pada anak Anda setahap demi setahap. Hasil dari tukar pendapat itu sebenarnya juga mempertinggi self-esteem anak karena ia merasa pendapatnya didengarkan oleh orang dewasa. 
Mulailah mengeluarkan kalimat yang panjang dan kompleks, agar ia mulai belajar meningkatkan kemampuannya dalam memahami kalimat. Untuk mengetahui apakah ia memahami atau tidak, Anda bisa melihat respon dan reaksinya; jika ia melakukan apa yang Anda inginkan, dapat diartikan ia cukup mengerti kalimat Anda. 
Anak-anak sangat menyukai kegiatan berbisik karena hal itu permainan mengasikkan buat mereka sebagai salah satu cara mengekspresikan perasaan, dan keingintahuan. 
Pakailah cerita-cerita dongeng dan fabel yang sebenarnya mencerminkan dunia anak kita dan memakainya sebagai suatu cara untuk mengajarkan banyak hal tanpa menyinggung perasaannya. Dengan mendongeng, Anda mengenalkan padanya konsep-konsep tentang moralitas, nilai-nilai, sikap yang baik dan jahat, keadilan, kebajikan dan pesan-pesan moral lainnya. Jadikanlah saat-saat bersama anak Anda sebagai masa yang menyenangkan, ceria, santai dan segar. Buatlah ini menjadi kebiasaan di waktu-waktu tertentu, seperti sebelum tidur atau di waktu sore hari.

Saran buat ayah dan ibu
Setiap orang tua pasti mengharapkan anaknya tumbuh sehat dan berkembang secara optimal sesuai tahap perkembangan yang wajar (bahkan banyak pula yang inginnya lebih). Untuk itu, beberapa saran untuk menyiapkan kondisi yang positif dan konstruktif bagi anak :
Asupan gizi dan nutrisi yang baik diperlukan anak mulai dari masa prenatal hingga post natal, supaya organ bicara dan otak sebagai pusat pengolahan data dan informasi bisa berfungsi secara optimal
Screening virus. Calon ibu biasanya disarankan untuk melakukan uji TORCH (Toksoplasma, Rubella, Citomegalo dan Herpes), guna menghindari adanya virus-virus tersebut yang berbahaya bagi perkembangan janin (termasuk proses pembentukan jaringan organ panca indera). Berkonsultasilah dengan dokter ahli supaya mendapatkan gambaran dan treatment yang sesuai. 
Tidak ada anak yang sama persis di dunia ini, sehingga hindarkan sikap membanding-bandingkan anak.
Berkomunikasi secara intensif, kontak mata, bercerita, berdialog, bekerja sama dengan anak, meski anak belum bisa merespon secara kompleks. Emosi yang di transfer sudah menjadi bahasa tersendiri yang ditangkap oleh otak anak sehingga anak mengerti apa yang dikehendaki orangtua.
Gunakan media yang bervariasi untuk mengembangkan kemampuan bahasa dan bicara anak, sesuai dengan karakter anak. Anak yang masih resah dan sulit memfokuskan perhatian jangan di paksa untuk membaca buku seperti anak yang tidak punya problem konsentrasi. Gunakan media lain, seperti alam dan permainan untuk mengembangkan kemampuan bahasanya. 
Waspada terhadap ambisi diri yang bisa menyebabkan problem emosional pada anak. Saking inginnya anak pintar berbicara dan berbahasa, orang tua memaksakan dengan cara yang keras dan tidak tepat apalagi dengan ancaman, hingga anak malah tertekan, takut, bingung, marah dan kesal. 


Semoga informasi ini bermanfaat untuk pembaca semua.

Masalah Kejiwaan Ortu & Cara Memperlakukan Anak 
  Kategori Anak
  Oleh : Jacinta F. Rini
  Jakarta

Beberapa hasil penelitian tentang masalah-masalah kejiwaan yang dialami orangtua dan berpengaruh terhadap tindakan penyiksaan dan atau penganiayaan terhadap anak dapat di bedakan sebagai berikut:

Gangguan Jiwa atau Gangguan Kepribadian

Seorang peneliti bernama Rose Cooper Thomas yang melakukan penelitian terhadap hubungan antara ibu dan anak, menemukan bahwa ibu yang mengalami gangguan jiwa Schizophrenia (dengan kecenderungan perilaku yang acuh tak acuh), maka cenderung menghasilkan anak yang perilakunya suka memberontak, jahat, menyimpang atau bahkan anti sosial. Namun sebaliknya ada pula yang anaknya jadi suka menarik diri, pasif, tergantung dan terlalu penurut. Peneliti lain juga menemukan, gangguan jiwa sang ibu berakibat pada terganggunya perkembangan identitas sang anak.

Penemuan yang sama juga mengungkapkan bahwa gangguan Obsesif Kompulsif yang dialami orang tua sangat berkaitan erat dengan sikap pengabaian mereka terhadap anaknya. Sebab, gangguan Obsesif Kompulsif ini menjadikan individu nya lebih banyak memikirkan dan melakukan ritual-ritualnya dari pada tanggung jawab mengasuh anaknya.

Munchausen's Syndrome by Proxy 

Munchausen Syndrome by Proxy (MSbP) adalah gangguan mental yang biasanya dialami oleh wanita, dalam hal ini seorang ibu terhadap anaknya (biasanya pada bayi atau anak-anak di bawah usia 6 tahun) dan biasanya berakibat sang anak harus mendapatkan perawatan serius di rumah sakit. Dalam penyakit yang digambarkan pertama kali oleh Meadow pada tahun 1977 ini dideteksi adanya unsur kebohongan yang bersifat patologis dalam kehidupan sehari-hari sang ibu sejak dahulu hingga sekarang.

Pada kasus yang parah, sang anak secara terus menerus dihadapkan pada situasi yang mengancam keselamatan jiwanya; dan sang ibu yang melakukannya dari luar justru kelihatan lemah lembut dan tulus. Gangguan jiwa yang berbahaya ini bisa berakibat pada kematian anaknya karena pada banyak kasus ditemukan bahwa sang ibu sampai hati menyekap (atau mencekik) dan meracuni anaknya sebagai bukti pada dokter bahwa anaknya benar-benar sakit.

Memang, pada kasus-kasus ini sering ditemukan adanya sejarah gangguan perilaku antisosial pada sang ibu, yang disebabkan dirinya sendiri mengalami pola asuh yang salah dari orang tuanya dahulu. Pada kasus lain ditemukan bukti bahwa ternyata sang ibu mengalami gangguan somatis seperti contohnya (menurut istilah medis) gangguan neurotik, hypochondria, atau gangguan yang bersifat semu lainnya). Ditemukan pula, bahwa ibu-ibu yang tega melakukan hal ini terhadap anaknya ternyata mengalami gangguan kepribadian yang cukup parah.
Depresi

Penelitian lain dilakukan oleh Chaffin, Kelleher dan Hollenberg (1996) terhadap anak-anak yang orang tuanya mengalami depresi atau pun psikopatologi. Menurut mereka, orang tua yang depresif ditemukan sering melakukan penyiksaan secara fisik terhadap anak-anak mereka. Anak-anak mereka juga dilaporkan mengalami masalah seperti depresi, masalah interpersonal, perilaku yang aneh-aneh dan mengalami masalah di sekolah atau dalam belajar.
Pecandu Obat Terlarang / Alkoholik

Keluarga yang alkoholis cenderung lebih tidak stabil dan tidak dapat diramalkan perilakunya. Segala aturan main dapat saja berubah setiap waktu, dan seringkali mudah mengingkari janji-janji yang pernah dibuat. Demikian pula dengan pola asuh orang tua terhadap anak. Pola asuh yang diterapkan seringkali berubah-ubah secara tidak konsisten; dan tidak ada ruang bagi anggota keluarganya untuk mengekspresikan perasaannya secara apa adanya karena banyaknya batasan dan larangan untuk membahas “keburukan� keluarga.

Oleh karena itu para anggota yang lain dituntut untuk mampu menjaga rahasia supaya tidak ada keterlibatan pihak-pihak luar dan supaya tidak ada yang mengetahui problem keluarga mereka. Situasi ini tentu saja membuat perasaan tertekan, frustrasi, marah, tidak nyaman dan kegelisahan di hati anak-anaknya. Sering anak berpikir bahwa mereka telah melakukan sesuatu kekeliruan yang menyebabkan orang tua punya kebiasaan buruk. Akibatnya, rasa tidak percaya, kesulitan mengekspresikan emosi secara tepat, serta kesulitan menjalin hubungan sosial yang erat dan sejati, menjadi masalah yang terbawa hingga dewasa. Menurut penelitian beberapa ahli, anak-anak dari keluarga ini lebih beresiko mengembangkan kebiasaan alkoholismenya di masa dewasa dari pada anak-anak yang bukan berasal dari keluarga alkoholis.

Menurut penelitian Chaffin, Kelleher dan Hollenberg (1996), pecandu obat terlarang dilaporkan menjadi faktor yang paling umum dianggap menjadi penyebab penyiksaan dan pengabaian terhadap anak-anak serta melakukan pengasuhan dengan cara yang tidak benar atau keliru.
Masalah Perkawinan

Salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah merasakan hubungan yang hangat dan penuh dengan kasih sayang yang diperoleh dari orang-orang yang dicintai. Namun tidak selamanya setiap orang dapat merasakan hal ini, terutama jika mereka berada dalam keluarga yang mengalami masalah pelik yang tidak hanya mempengaruhi keharmonisan keluarga, namun pengaruhnya sampai pada kehidupan emosional para anggotanya. 

Akibatnya, setiap anggota keluarga merasakan bertambahnya beban mental atau tekanan emosional yang terus menerus bertambah dari hari ke hari. Beban mental ini akan semakin berat kalau suasana dalam keluarga serasa mencekam, seperti di kuburan, tidak ada satu orang pun yang berani mengemukakan emosi dan pikirannya, dan tidak ada keleluasaan untuk bertindak. Tidak ada suasana keterbukaan ini hanya akan meningkatkan ketegangan dari setiap anggota keluarga. 

Pada umumnya, anak-anaklah yang menjadi korban pelampiasan ketegangan, kecemasan, kekesalan, kemarahan dan segala emosi negatif yang tidak bisa dikeluarkan. Sebabnya, anak-anak lebih berada posisi yang lemah, tergantung pada orang tua dan tidak berdaya sehingga mudah sekali menjadi sasaran agresivitas orang tua tanpa memberikan perlawanan. Akibatnya, pada beberapa kasus terjadi tindakan kekerasan fisik orang tua terhadap anak hanya karena orang tua tidak dapat mengendalikan dorongan emosinya. 
 
Para ahli yang menganut faham teori sistem berpandangan, bahwa yang sebenarnya, jika orang melihat seorang anak yang kelihatannya bermasalah, entah itu masalah penyesuaian diri, masalah belajar atau masalah lainnya, sebenarnya yang harus dicari tahu sumber penyebabnya bukanlah pada diri si anak, tapi lebih pada orang tua dan interaksi yang terjadi di dalam keluarga itu. Karena, anak bermasalah sebenarnya merupakan pertanda adanya ketidakberesan dalam hubungan keluarga itu sendiri. Jadi, masalah yang ditampilkan oleh anak merepresentasikan disfungsi yang terjadi di dalam kehidupan keluarganya.

Mengoptimalkan Masa Keemasan

Mengoptimalkan Masa Keemasan
  Kategori Anak
  Oleh : Ubaydillah, AN
  Jakarta 
  
Bagai Mengukir Di Atas Batu
Kita mungkin sudah akrab dengan istilah Masa Keemasan atau Golden Age itu dalam perkembangan manusia. Sudah sering ada produk makanan atau minuman suplemen yang pakai istilah ini untuk mendukung pemasaran atau iklan di televisi. Di redaksi iklan itu, orangtua sepertinya "diperingatkan" agar berperan seoptimal mungkin di Masa Keemasan yang terjadi hanya sekali seumur hidup si anak. 
 
Apa itu Masa Keemasan? Di literatur psikologi sepertinya istilah ini jarang dimunculkan. Meski demikian, tak sedikit penjelasan dari berbagai sumber yang mengungkap adanya bukti-bukti yang bisa ditangkap pengertiannya sebagai Masa Emas itu. Bahkan di zaman orangtua kita dulu sudah ada ungkapan yang juga bisa disebandingkan pengertiannya dengan Masa Keemasan itu.

Para orangtua kita punya pemahaman bahwa belajar di waktu kecil itu diibaratkan seperti orang mengukir di atas batu. Kalau melihat ungkapan itu dari berbagai ide yang berkembang saat ini, akan kita temukan perspektif yang mendasar dalam pengasuhan. Istilah yang dipakai di situ adalah belajar. Yang disebut belajar adalah memunculkan kemauan dan kesiapan untuk mengubah diri (readiness dan willingness to change).

Darimana perubahan diri itu harus diawali? Rumusnya, perubahan itu selalu diawali dari mengubah isi pikiran dengan mengisi pengetahuan, mengubah sikap dan perilaku dengan pengalaman, dan mengubah pencapaian (hasil) dengan keahlian. Jika pengetahuan, pengalaman, dan keahlian ini terus digunakan dan memberikan hasil yang bisa diprediksikan secara relatif konstan, maka disebutnya kompetensi.

Dengan mengacu ke ide yang sekarang berkembang, belajar yang dikatakan bagai mengukir di atas batu itu mengandung sedikitnya dua pengertian:

Pertama, tradisi mengubah diri, dalam pengertian yang luas, yang diajarkan orangtua pada saat anak masih kecil itu akan menjadi tradisi yang sulit ditinggalkan. Sudah tak kurang bukti yang membenarkan penjelasan ini. Anak yang diajari tradisi membaca akan sulit meninggalkan tradisi itu.

Kedua, materi yang kita masukkan ke pikiran si anak pada saat usianya masih kecil itu akan sulit terlupakan. Buktinya pun sudah tak kurang. Anak yang sejak kecil sudah diajari bahasa daerah tertentu akan sulit melupakan kosa katanya. 

Jadi, tradisi belajar (kesadaran untuk mengubah diri ke arah yang lebih baik) yang kita tanamkan di waktu kecil atau materi pengetahuan yang kita masukkan ke otak anak kecil bisa digambarkan seperti ukiran di atas batu. Belajar di waktu kecil akan menyatu dengan bawaan, motif, sikap, nilai-nilai, dan konsep-diri. Menurut Spencer (1993), ini semua adalah core personality atau bagian diri kita yang sulit diubah / sulit dihilangkan.

Bagaiman dengan belajar di waktu besar? Jika belajarnya itu diartikan menerima materi dari luar dengan cara dimasukkan (bukan diserap), maka yang sering terjadi, proses belajar di waktu dewasa sebatas ditangkap sebagai pengetahuan (knowledge). Oleh Spencer disebutnya dengan surface personality (kepribadian yang mudah diubah / mudah hilang).

Rangkuman hasil survey yang diolah Bizmanualz, Inc (2007), memaparkan prosentasi yang diingat dan yang dilupakan orang dewasa setelah diajari pengetahuan, mau itu training atau kuliah. Setelah 1 hari, yang kita ingat sebanyak 54% dan yang terlupakan 46%. Setelah 63 hari, yang kita ingat menjadi 17% sementara yang kita lupakan sudah 83%. Mengapa demikian ?


Belajar Menghafal vs Belajar Berproses
Jika mengacu pada proses belajar menghafal, maka yang keluar adalah angka-angka di atas; dan sehebat apapun kita menghafal materi kuliah atau training, sejauh yang kita andalkan hanya ingatan otak, mungkin 3 bulan setelah diwisuda atau disertifikasi, sudah banyak materi yang hilang. Lain soal kalau belajar berproses, artinya, materi itu menjadi bagian dari perjuangan hidup, profesi, atau pekerjaan. Mungkin kasusnya akan beda.


Kesuburan & Kehebatan
Kembali ke soal Masa Emas, dari berbagai penjelasan yang muncul saat ini, ada sedikitnya dua pokok pikiran yang bisa kita pakai rujukan. Untuk lebih mudah diingat, saya menggunakan istilah kesuburan dan kehebatan. Istilah kesuburan terkait dengan kondisi otak yang sedang subur-suburnya berkembang, membentuk jalur belajar, atau membentuk koneksi (dendrit). 

Temuan para ahli, seperti dirangkum Benjamin S. Bloom (1964), menyimpulkan bahwa 50% kemampuan belajar seseorang dikembangkan pada masa empat tahun pertamanya. 30% lain dikembangkan menjelang ulang tahun kedelapan. Sesudah umur sepuluh tahun, cabang-cabang yang tidak berhubungan akan mati.

Kalau mengacu ke sini berarti anak yang sejak usia 0 sampai 10 tahun-an yang kurang mendapat kesempatan untuk mengembangkan cabang-cabang di dalam otak, maka cabang di dalam otaknya akan sedikit dan di samping itu dia kesulitan menghidupkan cabang-cabang otak yang telah mati setalah usianya menjelang remaja sampai tua nanti.

Ada lagi yang mengatakan, usia 0 sampai 6 tahunan disebutnya sebagai Masa Emas Pertama. Masa Emas Kedua terjadi ketika anak masuk usia 7 tahunan sampai masuk remaja awal, usia belasan. Seorang pakar neorologi, Eric H. Lennenberg, menyimpulkan bahwa sebelum masa pubertas, otak anak lebih lentur. Makanya, ia lebih mudah belajar bahasa. 

Sedangkan istilah kehebatan itu terpaut dengan kondisi otak yang sedang hebat-hebatnya menangkap pengajaran dari luar. Ini sudah dibuktikan melalui pengajaran bahasa. Tony Buzan, psikolog dari Inggris (1990) mengatakan, hanya dalam 2 tahun pertama dia hidup, daya serap bahasanya jauh lebih baik dari seorang doktor di bidang apapun di dunia. Ini kemudian sempurna pada usia 3 atau 4 tahun. 


Apa Berarti Pintu Sudah Tertutup?
Sering ada pertanyaan begini: apa berarti setalah Masa Emas itu berlalu otak manusia sudah tak lagi memiliki kehebatan dan kesuburan? Dari sisi kondisi otak, secara umum mungkin ya, seperti yang kita rasakan. Tapi tidak berarti kinerjanya anjlok. Soal kinerja otak lebih ditentukan oleh faktor manusianya. Buktinya sudah banyak kita jumpai.

Baik ajaran agama dan temuan pengetahuan sama-sama menjamin bahwa otak manusia tetap bisa ber-kinerja asalkan terus menemukan cara-cara kreatif yang pas dengan dirinya dan memiliki api kemauan yang terus menyala. Makanya, belajar itu dikatakan sebagai perintah yang mutlak, tanpa batas waktu, dari lahir sampai mau mati.

Secara umum, orang dewasa punya keunikan belajar yang berbeda dengan anak. Orang dewasa cara belajarnya harus lebih banyak dari praktek atau untuk dipraktekkan, sesuai keadaan dirinya. Konon, Rumi yang kita kenal hebat di puisi spiritual itu baru mulai belajar serius setelah usianya 40 tahun. Mungkin karena otaknya cerdas, emosinya tinggi, atau perhatiannya tinggi terhadap isu yang diangkat di puisinya itu. Artinya, Rumi memang concern ingin mempraktekkan atau dari praktek hidupnya.

Ada ungkapan yang pas untuk orang dewasa tentang hal ini dari Edward Bolles. Katanya, kita akan punya ingatan bagus terhadap materi yang kita pelajari kalau kita mengerti (understand). Kita akan mengerti kalau kita punya perhatian (concern) terhadap materi itu. Kita akan punya perhatian yang besar kalau kita benar-benar punya keinginan terhadap materi itu.  

Tapi ada bukti lain yang perlu kita lihat juga. Orang dewasa atau remaja akhir yang tetap bisa belajar dengan mudah itu umumnya adalah mereka yang dari sejak kecil terbiasa menggunakan otaknya untuk belajar, entah secara internal atau eksternal. Karena itulah banyak ahli yang mengatakan bahwa Masa Emas itu penting karena kapasitas belajar anak yang terbentuk dalam masa ini akan menjadi landasan bagi semua proses belajar di masa depan.

Dari pengalaman pribadi yang masih relatif sedikit, ada indikasi yang saya peroleh bahwa remaja yang cabang-cabang otaknya lebih banyak karena sering dipakai belajar sewaktu kecil, ternyata punya respon yang lebih bagus, punya inisiatif yang lebih cepat, punya daya tangkap dan ketelitian yang lebih bagus. Selain itu, motivasinya untuk maju juga beda.
 

Stimulasi & Tradisi  
Sikap kita terhadap kenyataan yang menuntut untuk lebih mengoptimalkan pengasuhan terhadap anak, akan jauh lebih penting ketimbang mempersoalkan perbedaan pendapat apakah Masa Emas itu ada atau sampai tahun berapa. Kecuali jika ini kita angkat sebagai materi untuk skripsi dan kepentingan keilmuan murni.

Pertanyaannya adalah, apanya yang perlu dioptimalkan? Ada trend yang mengemuka seolah-olah yang perlu dioptimalkan itu hanya merek susu atau kenyamanan fisik si anak atau enforcement dari luar atas interest orangtua. Harus diakui ini memang penting, tetapi yang juga penting adalah memperbanyak stimulasi dan tradisi yang berbasikan pengasuhan.

Kenapa stimulasi dan apa saja bentuknya? Stimulasi adalah berbagai rangsangan, entah itu kesempatan bermain, fasilitas belajar, atau materi (misalnya cerita atau bacaan), yang dapat memicu anak untuk belajar atau mengolah pengajaran. Para ahli menyarankan pentingnya aktivitas bermain yang dapat mencerdaskan motorik untuk usia anak-anak, mungkin 0-4 tahun-an.

Rangsangan juga bisa berbentuk sentuhan yang abstrak, misalnya dukungan dan keterlibatan kita dalam proses belajar anak, entah itu belajar di sekolah atau belajar hidup. Riset mengungkap bahwa keterlibatan orangtua dalam belajar anak sangat punya peranan dan kontribusi (Family Involvement in Education, U.S. Department of Education: 2002) atau akan dimaknai sebagai motivasi oleh si anak. 

Rangsangan akan membentuk cabang-cabang otak sebanding dengan yang kita berikan. Selain itu, pengetahuan dan pengalaman si anak juga semakin kaya. Selain rangsangan adalah membentuk tradisi belajar atau tradisi berprestasi dalam keluarga. Tradisi di sini adalah berbagai bentuk pembiasaan positif, misalnya membaca, perhatian dan tanggung jawab terhadap tugas, mencari informasi untuk menyelesaikan masalah, dan berbagai sifat-sifat positif lain.

Untuk membangun tradisi itu mau tidak mau dibutuhkan disiplin. Kata Richard L. Munger dalam booklet-nya Rules For Unruly Children (2007), jangan mengira anak kita lebih bahagia dengan tidak kita berikan disiplin. Anak membutuhkan behavior limits untuk bisa lebih bahagia. Hanya saja, ada beberapa catatan yang perlu kita ingat, antara lain:
Tujuan berdisiplin bukan untuk disiplin, melainkan untuk memfasilitasi agar anak bisa belajar mengontrol hidupnya. Semakin bagus kemampuan anak mengontrol, maka disiplin harus segera dilembekkan / dikurangi / difleksibelkan
Materi disiplin itu perlu dirancang sejelas mungkin sehingga anak tidak merasa semua serba diatur. Disiplinkan untuk hal-hal yang fundamental saja dan sesuai perkembangannya. Akan lebih bagus jika materinya sudah disepakati. 
Penegakannya akan lebih bagus dengan pendekatan friendly, bukan forcefully
Disiplin bukan dikeluarkan karena amarah yang sesaat lalu ditegakkan secara tidak konsisten.  
Berikan berbagai reward yang unik dan memotivasi. Pilihlah rewards yang cara mendapatkannya bukan dengan menangis atau usaha-usaha rendahan lainnya, melainkan dengan to do their best. 

"JANGAN MENGIRA ANAK KITA LEBIH BAHAGIA
DENGAN TIDAK KITA BERIKAN DISIPLIN."

Semoga bermanfaat.